Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Januari 2012

Kotaku…..Kotamu…..Kota Kita


Dua generasi yang berbeda masa dan tempat bertemu pada suatu kota dan terlahir di kota yang sama, mereka Upik dan juga orang yang tidak seberapa ia kenal tengah duduk dengan manis di tengah awan mimpi. Namannya Sigar bukan itu mungkin hanya julukannya karena badannya yang tak utuh lagi. Dia tinggal setengah nyawa, setengah badan dan setengah dari rasa ketidak puasannya akan apa yang tidak ia inginkan, tidak ia harapkan dan juga tidak ia impikan. Mungkin ini akan Nampak agak aneh, ketika ia harus bertatap muka dengan dunia yang namak indah hanya bagi beberapa orang.
Kemudian Sigar menanatap Upik yang tengah tersenyum manja ingin menapaki dunia yang indah. Upik tersipu hingga mukanya merah seumpama apel merah. Ah… alangkah manisnya dia. Mungkin berjuta anak negeri ini juga seperti itu. polos, lugu dan juga mahluk yang akan tertipu ketika dia beranjak dewasa dan merajut mimpi bersama dengan masa depan. Ah… alangkah malangnya.
Aku ingin bercerita tentang sebuah kota, kata Sigar kepada Upik. Kota di tengah kota yang hilang dan juga menjadi kota yang sungguh aku rindukan. Sebuah kota yang mungkin akan menjadi angan bagi seorang seperti aku. Dulu kotaku mungkin adalah kota yang aku lupakan. Aku tak sempat berkenalan dengannya. sebuah kota yang mungkin telah secara tak sengaja aku lupakan. Sebuah kota yang dulunya dengan mudah engkau temukan arti hidup dan juga kasih. kota yang ketika engkau berlayar menuju laut kau bisa temukan protein ikan, kota yang ketika kau lari ke atas bukit akan kau semai ladang milik mamak dan juga kota yang dimana kamu bisa memikul garam dari ladangnya dengan mudah. Bukan hanya itu saja…di kota ini kau akan temukan bukit-bukit kapur yang tinggi, sungai yang jernih dan juga masyarakat yang beriman.
Oh… gresik…. Alangkah berubah kau kini. Katanya dalam hati…. Hanya Tuhan, mahluk tak berwujud yang tahu apa yang ia katakan.
“ indah sekali kotamu?”
Sigar hanya mengangguk pelan dengan sedikit menitikan air mata. Ah…. Malangnya nasib kotaku. Yang diperkosa oleh para ketua yang dulunya merupakan tangan panjang rakyat dan juga agama. Ah…. Para mahluk itu….. apa kabarmu ??? mahluk yang berseru antara dosa dan juga pahala, yang selalu bertandang ke Masjid pertama kali dan mungkin juga mahluk yang menikahkan anaknya yang baru saja berusia 16 tahun dengan pria yang berusia 31 tahun. Mahluk yang berjubah dan bermandikan kekuasaan politik. Ah… dunia kemana kah orang yang benar-benar arif dan bijaksana ada.
Disana banyak sekali surau yang mengumandangkan panggilan adzan, tak peduli seberapapun kerasnya namun semakin tahun semakin banyak yang mangkir dari panggilan itu. mereka semua lebih banyak berjejar diantara barisan café atau warung kopi tengah asyik menengguk kopi dengan memandangi para peramu kopi yang tengah asyik memamerkan pinggulnya. Bukan rumah ataupun mushalah yang akan mereka tuju melainkan kesenangan sesaat, bukan sebuah tempat yang membungkus hati dengan cinta dan juga kasih. Ah…. Gresikku….. malangnya kamu. Tertinggal dan ditinggalkan mereka yang menghidupimu.
Berapa banyak tanah yang akan kau makan wahai pabrik. Cukupkanlah jenkal tanah milik mamak yang masih menghijau, sedikit sisahkan tanah untuk bapak menebar benih udang dan bandeng karena sudah terlanjur ku kenalkan pada dunia kalau gresikku terkenal dengan bandeng.
Cukuplah cukup wahai cukong pabrik, kau isap apa yang Gresik punya, kau keluarkan kabut hingga kami tak mampu lagi untuk melihat indahnya mentari yang menyapa kami di pagi hari dan tenggelam di sore hari, kami juga tak mampu menikmati kabut segar di pagi hari yang ada hanyalah kabut aminia’ yang bertebaran di pagi dan sore hari. bukan hanya itu saja aku tak mampu mengenali lagi lautku yang kaya. Sudah aku cari selama berbulan-bulan namun yang aku temukan adalah lautan yang jika minyak limbah itu lewat akan kau jumpai ikan dengan sendirinya mengapung. Ikan itu yang mungkin saja tersaji. Kotaku …. Kotaku mungkin kota yang di huni banyak yang berilmu, beriman, yang kaya namun kotaku adalah kota sampah yang mungkin banyak ditemui racun disana sini.
“ kotaku kau kemana yang dulu………. Bagaimana dengan kotamu kawan?” Tanya Sigar kepada Upik.
“aku ini orang ndeso mana aku tahu kota yang indah sekalipun aku melihatnya. Yang aku tahu adalah sebuah kota yang membuat aku kenyang.” Katanya sambil memamerkan perutnya yang buncit.
Lalu Upik menatap Sigar dan kembali berbicara, kau tau tidak. Kota yang aku miliki adalah sebuah kota yang memiliki berjuta lapangan usaha. Ya…banyak uang namun mungkin sama dengan kotamu yang mungkin kurang hijau. Tapi kota yang mungkin akan memberimu berpuluh-puluh lembaran uang ratusan, dalam dua minggu tanganmu akan mengenggam sejuta. Bayangkan….nominal itu tak akan kau dapati dengan membajak sawah dan menunggu panen tiba.
Dengan hanya berdiri dan mematung mengerjakan hal yang sama dan di akhir bulan, pekan atau mungkin harian kami bisa menikmati rupiahnya. Tak perlu pagi buta kami berangkat dengan menenteng cangkul dan nanakan nasi emak kami bahkan kini lebih mulia dan juga terhormat. Bekerja di pabrik adalah sesuatu yang mungkin paling terhormat dikampungku. Kami mendapatkan uang yang banyak dan tak terbayangkan. Rupiah…..rupiah…. rupiah untuk membangun rumah, menikahhi istriku dan juga untuk meminum toak
Upik lalu memajukan tubuhnya dan memamerkan baju yang ia kenakan, jam ber merk dan juga cincin emas yang bertahtakan batu akik yang ia peroleh dengan cara halal yakni menjadi buruh pabrik.
Sigar hanya tersenyum, ah….. dasar orang kaya baru. baru dibodohi, bodoh dan juga pada akhirnya terkalahkan dengan otot yang lebih kuat mereka kaum upik adalah kaum pekerja, kelas yang mungkin akan tergantikan dengan kelas pekerja yang lebih kuat selalu seperti itu, ibarat mesin selalu ada pembaruan. Masa ke masa akan tergantikan dan selamat datang kaum pekerja capital.
Sigar yang terdiam lalu menatap Upik yang tengah asyik memandangi jam mahalnya. “ kau tahu kata orang ini import.”
“ya….. apakah kotamu ad ataman yang menyediakan ruang untuk singgah?”
Upik hanya tersenyum bangga, di desaku banyak tapi di kotaku sangat jarang, namun tempat hiburan sekelas café lebih banyak. Kau bisa menikmati secangkir kopi ditambah dengan badan molek yang siap menggoyang badan saat kita menatapnya itu sudah taman surga bagiku. Tak penting tamanku hijau atau tidak, yang terpenting tamanku mampu menghilangkan penatku.
“ bagaimana udaranya dan airnya? Apakah bagus dan bersih, jika itu benar mungkin aku akan pindah?”
“tidak…. Jika aku punya banyak uang aku akan beli rumah mewah, motor dan mobil. Tak penting masalah itu, yang penting adalah bagaimana kita kaya dan bisa melakukan apapun.”
“udara kotor?” Tanya Sigar.
“ aku punya uang untuk beli masker dan bahkan jika aku sakit uangku cukup membeli bertabung-tabung oksigen.”
“lalu air…..”
“ada iar kemasan.” Jawab Upik dengan singkat.
“tak semua beruang di kotamu, pekerja… ada anak-anak yang masa depanya panjang, ada orang tua yang butuh kesehatan, ada ibu hamil yang butuh nutrisi dan uadara yang sehat, ada mamak yang menanam sayuran dengan susah payah dan dengan jahatnya polusi itu menempel di daun yang akan ia sajikan untuk kamu dan adik-adikmu.”
“itulah gunanya uang….kau tak perlu menderita jika kau punya uang.”
“kau akan merasa apa yang aku rasakan suatu hari kelak. Kerinduan akan hijaunya kota.”
Sigar….. menatap Upik dengan senyum yang terulas di matanya. Uang….harta….. dan apapun yang membuat dirinya kaya itulah yang penting. Tak masalah ia sakit dan menderita atau apapun, budaya capital memanglah seperti ini. hijau atau biru kota tak akan pernah berkesan apapun dimatanya.
“lalu dimana kotamu?”
“Gresik…..” kata UPik, “lalu dimana kotamu, pak Tua?”
Sigar hanya tersenyum mendengar kota Gresik disebut. Kota yang sama dengan dua pandangan yang berbeda.
“Gresik, kotaku….kotamu…..kota kita….. berubah.”
Upik tercengang melihatnya, ia membayangkan dan mulai kembali memintal cerita Sigar yang lalu. takut….. kaget dan tak percaya bercampur jadi satu. Ternyata Gresik.


Gresik, 04 Januari 2011

Untuk saudaraku di Gresik, selamatkan kota kta dari polusi.

Malu dan Kebanggaan.


“Apakah engkau bangga pada negerimu? Ataukan kamu malu pada negeriu? ”
Mungkin dirinya adalah orang yang keseribu yang bertanya padaku tentang arti kebanggaan dan rasa malu.
Diamanapun di tempat ini….. di Negara kecil ini mereka bertanya demikian padaku. setengah ingin tahu dan setengah lagi dengan tampang meledek. Bukan hanya dosen, kawan, sahabat atau mereka yang numpang lewat.
Mungkin dan mungkin dia patut bangga pada negerinya. Dengan kebanggan yang mereka terjemahkan sendiri. Bagiku kata kebanggaan relative. Boleh jadi aku hanya terlalu sensitive.
Bagi mereka yang aku kenal disini, hiasan kota yang mewah di jalanan yang aku pandangi kali ini, menyakini bahwa mereka bangga. Bagi mereka kota yang aku jejaki adalah kota penuh semangat kebanggaan. Entah bangga pada bagian yang mana dan karena apa. Tapi aku iri.
Hari ini di alun-alun ini dan hari yang lalu atau mungkin hari yang akan datang aku menatap mereka. mereka ada disini, tinggal dan menjalani hidup. Mereka datang dari negeriku ke negeri ini. jauh dan juga biru. Walau disini tercukupi namun aku tahu, sebenarnya di palung hati yang terdalam sebenarnya mereka rindu akan ibu pertiwi. Tanah air bagi mereka adalah masa lalu yang terukir kuat dan mengakar di hati mereka. tapi kami dan juga mereka tak terjanjikan atas keadilan dan juga hak kami. kami kecewa atas itu….
Diantara mereka mungkin sama seperti aku yang merindukan lingkaran kuning menghangatkan sepanjang tahun tanah ibu kita atau mungkin mereka merindukan kesemerawutan kota-kta di bumi pertiwi dengan debu dan polusinya yang lengkap dengan bisingnya klakson dan makian sopir yang geram di rimbah jalanan tanah air. Aku bangga pada mereka dan aku paling geram ketika kami berada di dalam kendaraan umum yang berjejal dengan panasnya selubung bumi dan terdiam hanya karena jalanan di tutup beberapa jam karena ada pejabat yang numpang lewat. Semua penumpang mikrolet melongok ingin tahu siapa yang lewat hanya sekadar ingin tahu siapa yang membawa kabur hak-hak kami.
Malukah aku pada bangsaku? Mungkin aku malu. Mana kala ku lihat beribu-ribu anak jalanan yang harusnya dipelihara Negara terlantar dan tergadaikan dengan keping-keping rupiah. Itu tak seberapa, disana ditempat itu terlihat atau tidak terlihat nyawa mereka tergadaikan, tiada kasih sayang dan mereka yang berdasi terbutakan. Kebodohan yang berdasi membuat aku malu karena bangsaku bobrok akan moral dan nilai. Mungkin adalah kita dan juga mereka berperan dalam hal itu. tapi mereka kaum berdasi, gendut yang kaya kecuali di hadapan Tuhan. Yang miskin manakala….. tanpa merampok dan bermuka dua. Yang berdusta manakala berbicara dengan rakyat yang bagi mereka bodoh dan layak untuk dibodohi.
Hormatkah kami …. Atau mungkin kami takut?
Aku tersenyum pada tulip yang baru saja mekar pagi ini. merah… dan juga kuning menghiasa taman laun-alun kota. Apakah disini juga ada ketakutan akan diperkarakan karena kami tak takut atau hormat pada mereka? atau mungkin kami harus pura-pura takut hanya karena etos susila pada lingkungan social yang kecil harus hormat pada yang besar… bukan bukan… bukan yang benar pada sosialita kita adalah miskin harus hormat pada yang kaya atau mungkin kaya dan yang jelatah patuh pada yang berkuasa. Atau lebih tepatnya itu hanya omong kosong. Lebih tepatnya kami takut … takut akan sangsi hokum. Hukum alam…. Hukum Negara…. Hukumm Tuhan. Dan anehnya para penguasa justru bangga saat rakyat takut pada mereka karena alasan hukum. Bukan malah….. takut karena kebijaksanaan mereka.
Lalu apa yang aku bisa tatap dari negeriku jika aku melihat mereka. sedang kami para penerus generasi yang disini dengan uang beasiswa yang pas-pasan harus hidup dengan tuntutan dan ajuran dari sang sang leluhur yang bijak untuk berbakti pada nusa dan bangsa. Lalu mereka…. bedebah-bedebah berdasi yang entah siapa itu. makan…tidur….makan… tidur terus dengan uang sebaai bantal dan kasur. Tidur dari kenyataan yang merajalalela. Makan dari yang bukan hak nya dan jalan-jalan dari apa yang lebih dijadikan alasan. Studi banding sana sini padahal merancang undang-undang saja lama….lama banget.
Apa yang harus aku banggakan ? Tiada dan juga kosong. Aku bahkan … ingat kini tentang kebohongan yang mutlak. Guruku mengajarkan aku tentang kebohongan bagiku. Mereka mengajarkan kenyataan yang setengah-setengah agar kami ya….. setidaknya pernah bangga pada negeri kita. Saat aku kecil guru-guruku pernah bilang kalau negaraku adalah Negara yang kaya. Dan kini aku tahu kalau kita kaya penduduk, kaya kebohongan, kaya cukong-cukong pengadilan, kaya korupsi. Dosen Indonesiaku bilang kita berpotensi kaya namun miskin.
Ini baru bener……
Dulu aku tersenyum mana kala Ismed temanku yang pernah berbicara padaku. tentang arti kebanggaan. Aku tahu kini, aku mungkin ibarat kucing yang mengais kehidupan dari reruntuhan kebanggaan tentang dulu… dulu… dan dulu. Mana kala mereka para pejuang berjuang untuk sebuah kebasan. Jika mereka tahu akhir bangsa kami akan terjajah oleh kami mungkinkah mereka berjuang? Yang mereka tahu hanya satu, mereka akan berjuang agar yang tertindas bisa bernafas. Aku bangga akan itu.
Tapi ketika ku ceritakan kebanggaanku pada mereka. jenisku dan seusiaku yang seanak rusa. Aku cukup malu ketika aku terlahir bersama mereka. mereka anak-anak rusa yang mengauli anak-anak macan. Mereka tak sadar kalau anak-anak macan akan menerkam mereka kapan saja. Macan-macan itu menjelma menjadi sesuatu yang menyenangkan di rimba perkotaan. Sadarkah mereka tak sadar kalau rimba perkotaan akan membunuh mereka. aku dan juga mereka mungkinkah telah tercabut dari akar-akar tradisi, di saat mereka menafsirkan nilai-nilai lama secara rasional. Sementara kebebasan dan kebudayaan ruang dan masa membuat kita dan juga mereka terjebak dalam identitas yang kosong, hambar dan juga tidak jelas akan siapa kami.
Apa yang harus ku banggakan? Aku justru malu.
Kami mencari kami dalam kegelapan. Kami ingin berlari dan terus bertanya akan kebangaan pada tanah air kita. Dan kami berlari aku sadar. Diantara puing-puing yang rusak itu. ada kebanggaan yang harusnya kami lihat. Mereka tak tampak namun nyata, mereka ada disekeliling kita yang berjiwa besar namun tak butuh dihormati dan dihagai, ada air, udara, hutan dan apapun itu yang pertiwi berikan untuk kami. ada nama-nama pejuang yang mati untuk kami. ada selusin makna kebaikan dijalanan yang tak terlihat namun nyata. Ada mereka yang berjuang tanpa kepentingan golongan, berjalan sendiri hanya untuk memperjuangkan arti kesejahteraan.
Aku bangga dengan matahari ekoador…. Yang bersinar sepanjang kami hidup di tanah pertiwi. Sepanjang kami mau belajar dan berjuang untuk sebuah arti kebanggaan.
Tapi aku tetap bingung jika aku bercermin pada aku yang lain yang lupa pada siapa kita. Dan ketika aku Tanya pada mereka apakah mereka malu pada negeri ini? mereka tak menjawab karena bingung. Aku tahu jawabannya mungkin iya dan tidak. Dan bagaimana dengan ada?

Den Haag, 1 November 2011

Si hijau yang bunuh diri

Dia datang dan selalu datang. menyanyat kulitku dengan lembut dan melindasi tubuhku dengan sentuhan yang halus. aku terdiam menikmatinya dengan kesesatanku. Tubuhku yang meliuk dan membentuk gadis dengan jelas membuat mata yang di udara menatapku. Aku indah dengan balutan hijau bajuku. Aku cantik dan mereka yang melihatku histeris. Histeris dengan keadaanku kini.

Dia menyentuhku dengan bahasa yang lain yang tak aku dengar sebelumnya. Ia mencintaiku dengan kata-kata manisnya aku tahu. sentuhannya begitu elegan dan menawan. Dia maskulin dengan balutan banyak hal yang menawan hati. Ia tak begitu tertarik dengan kulitku yang cokelat.

Aku terdiam menunggu tangan elok bidadari mendadani aku lagi. Menusukan bros dari mutiara dan emas di sela-sela dadaku. Dadaku yang jenjang mungkin akan membuat sahwatmu naik. Tapi ia urung melakukannya.

“mamak dia datang.” teriak mereka

Aku terdiam, membiarkan tubuhkuh melenggak-lenggok, setiap pagi aku sudah menggoda mereka. membiarkan tubuhku yang deras dengan keindahan ragawiku untuk mereka sentuh. Aku menyukai sentuhan itu. sentuhan kasih sayang dan agak centil. Awalnya ia memcintaiku dengan tangan kasihnya. Membelai rambutku yang tak berujung dengan manisnya. Aku bangga ketika berkali-kali ia mengecup manisnya tubuhku. Memandikan ragaku setelah bermalam dengannya.

Kami lakukan itu bersama-sama dan senyum tersungging di wajahnya dan wajahku bersemu merah. Mereka memasuki dalam ragawiku mencuri sesuatu dan berterima kasih saat mendapatkan cinta kasihku dan pemberianku.

Suatu kali ada mahluk lain yang mencuri mereka si pencuri kesukaanku. si liliput-liliput itu meninggalkanku tanpa sedikit menyisahkan cinta padaku. mereka bukan lagi si pencuri kecil yang ku kenal. Mereka lain.

Keheningan meliputi ragaku dan bunyi berisik membangunkan aku dari kesunyianku. Sayap bidadari langit yang dulunya menyukaiku kini telah berubah menghitam. Terjadi pemerkosaan yang hebat disana. Cahaya putih yang berbenar kabut itu menghilang. Benar-benar menyelimuti kami,

“ahhhh…. Jagan lakukan itu…”

Lalu terdengar teriakan laki-laki, mengelengar dan juga meniadakan keheningan. Memuncakkan andrenalinku. Membuat rintian air mata si hijau.

“tidak…”

“tidak.”

“tidak.”

Rintih si bidadari. Ia tak lagi bergema suaranya. Yang ada hanya sayap-sayap kelabu merah yang bertaburan disisi kami. aku terdiam ketakutan dan juga merinding. Si bidadari langit yang indah, tersakiti. Apa yang hendak kami alami?sayap-sayap yang tak menyawa itu tercabuti satu persatu dan bercecean di sekitar kami. darahnya yang telah mengering semakin ingin kami hilangkan dari ingatan kami karena ketakutan. Sayap-sayap itu tak lagi melindungiku dan juga tetanggaku si hijau. Si hijau semakin panic. Ia membiarkan dirinya terkena kangker. Dibiarkannya liliput itu memilah rambutnya dan mengambil ubannya yang tua.

Ia yakin liliput munggil akan merawatnya karena ia telah memberikan begitu banyak. Memberikan tepat dan nafkah serta melindungi mereka.

Si bidadari langit menatap kami, matanya yang biru tidak itu kelabu dan rintihan halusnya terus terdengar. Ada kecambuk dalam batinnya. Menyala-nyala dan api itu melilit-lilit indah. Tapi kami hanya terdiam menyaksikannya.

“teruskanlah bermanjaan.”

Lehernya yang seputih angsa itu terkerat dengan linangan darah menghitam penuh pekat. Tubuhnya yang indah kini berbalut ketelanjangan dan tak ada satupun yang kini mampu melindunginya, kami dan liliput munggil tecengang mendapati fenomena itu.

“aku sudah tak lagi mampu melindungimu.”

“kenapa?” tanyaku.

“karena aku sudah tak punya senjata lagi.”

Dia lalu menunjukan kebeningan tubuhnya yang membuat kami tertusuk dalam. Tersakiti dan ku lihat aliran darahnya yang menghiasi hampir seluru jiwanya. Ia merasa jijik dengan ketelanjangan itu. ia kini hanya sebuah dzat yang bernyawa namun tak mampu memilih. Dia tak pantas lagi kami sebut bidadari bahkan mungkin tak pantas lagi jika aku panggil ia mantan bidadari yang elok dengan gaunnya yang putih. Sayapnya yang menjuntai atau lehernya yang seputih angsa itu bahkan tak berbekas lagi.

Laki-laki pemerkosa itu melirik kami. matanya yang tajam memandang kami berdua. Si hijau dan aku ketakutan karena kami terpasung tanpa daya. Tubuh kami terdiam, gemetar dan dugaan yang buruk terjadi. Si liliput meninggalkannya. Ia malah mengambil begitu banyak dari biasanya. Mengerongoti payudara si hiau dan meninggalkan tubuhnya yang rapuh.

Si liliput tak berdaya melawan cintanya. Si liliput hanya diam dan diam. Memandangi dan bahkan ada sebagian dari mereka yang berkhianat. Mereka tertawa bersama-sama dengan penjahat itu. si hijau menangis merasa terkhianati. Ia memberi banyak dengan harapan akan tetap mendapatkan cinta kasih. tapi itu hanya sebuah mimpi. laki-laki pemerkosa itu kemudain menatap lekat-lekat pada lilipun lainnya.

“kau tahu… kau akan suka jika sudah terbiasa.”

Si liliput tua yang tak berpakaian lengkap menantang mereka. aku tahu ia cinta dengan kami bahkan melebihi cintanya pada dirinya sendiri. Ia melantangkan suara,

“jagan kau rebut kebahagiaan anak cucu kami.”

“bahagia?”

“anak cucumu pun akan memperkosanya. Ini hanya soal mobilitas antara aku dan juga dia.”

Tangan telunjuknya yang panjang langsung menunjuk ke arah liliput munggil yang ada digendongan ibunya. Bayi liliput itu terseyum dan mencium telunjuk laki-laki pemerkosa itu. seolah ada madu di telunjuk itu.

Si bidadari langit belum mengusir siang, belum meniadakan malam dan membiarkan serat darah yang memerah itu memandang kami. si hijau terdiam. Ia menitikan air mata sementara itu laki-laki pemerkosa mulai membelai rambutnya. Ia menikmati untaian rambut lebatnya yang penuh misteri. Mengusir kutu-kutu itu.

Hidung laki-laki itu menciumnya. Menarik dengan keras rambutnya dan membiarkan si hijau merintih. Dia semakin terlihat perkasa saat si hijau merintih kesakitan. Ia semakin menjadi-jadi saat si hijau melolong kesakitan. Laki-laki menyentuh alis tebal milik si hijau. Alisnya yang tebal mirip alisku dan bibirnya yang merah mirip milikku. Kata laki-laki itu dalam hati. Si hijaupun hanya diam dan tak mampu bicara apapun.

Aku marah dalam hatiku ingin rasanya aku melawan namun apa daya aku tak mampu melakukan apapun. Dulunya si hijau selalu melarangku untuk marah. Tapi kini aku bahkan kehilangan nyaliku. Si bidadari langit hanya memandangnya dengan membuka mata. Ia tahan dengan kondisi itu dan matanya tak tertutup sedikitpun. Dia sudah biasa memandangi hal demikan. Tiada tangisan atau kesedihan atau mungkin solidaritas.

“jangan…”

“jangan…”

“jangan… yang itu… itu untuk kekasihku.” Kata si Hijau.

Aku semakin merinding. Ingin rasanya aku tendang dia dengan kakiku yang jenjang. Namun si langit hanya diam dan memandangku. Kini aku menyangsikan apakah ia seorang bidadari yang baik hati.

“kenapa kau diam?”

“aku bisa apa. Dan kau tak tahu lukaku.”

Aku terdiam mendengarnya. Aku terus memperhatikan tangan laki-laki itu yang menyentuh lehernya dan tangan panjang itu aku yakini akan menyentuh dada si hijau. Si hijau semakin bekeringat dan air matanya jatuh. Aku menerima buliran air mata itu. aku tampung luka itu lalu kemudian aku menjadi saksi. Saksi atak kehilangan keperawanan temanku itu.

Pertama-tama ia lepas semua pakaian si hijau. Aku melihat kulit si hijau untuk pertama kalinya. si hijau bugil dan aku hanya terdiam. Aku tak mampu membungkus tubuhnya itu. si hijau menatapku dan dia sudah tak cantik lagi. Matanya sangat ranum dan tubuhnya sangat kecil. Ia gemetar karena ia kini bukan apa-apa. Ia yang anggun, mempesona kini hanya berupa kulit dengan tulang belulang. Untaian manik-manik dan bajunya berserakan di sekitar tubuhnya. Ia tak berdaya dan hanya terdiam.

“kau tahu, aku kan berikan kau baju yang lebih indah.”

ulung tak mau?” kata si hijau.

“tapi kau bisa apa sayangku…. Tidak ada. akulah Tuhan dari kalian dan akulah yang memiliki kuasa atas segala tindakan.”

Dia mencengkram kuat bahu si hijau dan menelanjanginya. Ia telanjang kini… bahkan rambutnyapun menghilang.

“cengkeram yang kuat.” Kata seseorang yang hitam.

“tentu.” Katanya.

Laki-laki itu mencengkeram kuat tubuh si hutan. Dia lalu meninggalkannya. Meninggalkan si hijau seolah si hijau tak berarti lagi. Tidak sedikitpun si hijau mendapatkan bayaran. Si hijau terdiam dan hanya mampu menitikan air mata. Matanya yang berbinar kini terbakar emosi. Ia ingin membunuh dirinya yang sekarat. Ia bakar tubuhnya dan membiarkan abu mayatnya bertebaran disekitar kami. ia bumbungkan anyirnnya darah menghitam itu pada si bidadari dan ia pamerkan abu-abu tubuhnya yang lembut padaku.

“ibu… apakah yang terjadi?’’ Tanya si liliput kecil.

Liliput tua tahu apa yang terjadi. si hijau putus asah dan bunuh diri. Dia malu dengan apa yang terjadi padanya sementara laki-laki itu dan laki-laki hitam pergi entah kemana. Liliput tua itu terdiam. Ia ingin mengukur kebijaksanaan pemikirannya dan memandang liliput pengkhianatan dengan kehinaan yang dalam.

“si hijau bunuh diri.” Kata mamaknya.

“kenapa kita tak menolongnya?”

“karena kita tak mampu melakukan apapun.” Kata mamaknya sambil merangkul erat anaknya.

Si bidadari benar-benar sedih. Ia limpahkan kilatan gemerlap cahaya dukanya, ia kumpulkan semua daya uapaya yang ada hanya untuk menangis karena hanya itu yang mampu ia lakukan. Ia teriyaki seisi dunia tentang keadaan yang ada. ia hembuskan kuat-kuat nafasnya karena kemarahan dan juga kebisuan semuanya. lewat butiran air mata yang tiada henti terlukis dengan jelas emosi itu. Aku yang sempat marah padanya kini tahu luka itu. luka seorang korban dan saksi dari berjuta-juta pemerkosaan atas si hijau. Ia biarkan lukanya membasahi tubuh si hijau berharap kalau si hijau akan bangun kembali. Mengecup setiap kejeringan dan kebugilan si hijau. Berharap sebuah nyawa helaian benang akan ada.

Aku yang hanya bisa menampung dukaku dan duka si bidadari hanya marah lewat caraku. Ku tumpahkan semua lukaku. Ku genangi apa yang ingin kulakukan. Aku marah pada semuanya dan aku bunuh diriku. Ku tumpahkan nyawaku atas kekecewaan pada banyak hal. Aku tak benyawa.

Hitam kecolelatan.

Hitam kecokelatan mengenang semua yang ada. kami mati dalam penyesala laki-laki itu. siapa yang tahu nasib Barito lagi. Mungkin esok atau lusa aku akan mengalami hal yang sama. kali ini hanya sebatas ini yang mampu aku lakukan. Aku marah pada semuanya dan aku marah pada ketidak berdayaanku menolong tetanggaku si hijau.

Decak Barito hanya kesedihan yang terdengar. Meski aku melihat liliput itu merayapi tubuh si hijaum dan menjahit baju dengan bahan yang lain. Bahan yang sekiranya mampu menghasilkan namun aku yakin tetap si hijau tak kembali. Liliput hanya ingin sesuatu yang menguntungkan dari bangkai si hijau. Seperti dahulu, seperti mereka yang mencuri dan si hijau tetap memberi. Lilipun tak pernah beubah, ia selalu menjadi parasit dan tak benar-benar mencintai si hijau. Hanya sedikit dari liliput yang benar-benar mencintainya dan aku bertanya,

“mana mereka?”

“mana dia?”

“dimana ia?

“dimana mereka?”

“dimana?”

Dan hanya ada suara kecil serta acungan tangan munggil yang bahkan tak terlihat. Mereka melintasi tubuhku dan aku terdiam. Kadang kala aku bedecak marah pada yang lain. Kadang pula aku terdiam merasa mengangkat topi pada liliput yang berhati emas namun bahkan tak terlihat di mataku. Begitu kecil…. Hingga kadang saat aku lupa aku berkata,

“mana mereka?”


Muara Teweh, 16 november 2009

Aku yang Lalu, Dia yang Sekarang dan Kamu.


“ Aku menunggu kamu disini? ” kata saya dalam hati untuk kesekian kalinya.
Saya terdiam dan menunggu di sebuah bangku di suatu sisi Kota yang laut ia jadikan petunjuk jalan keluar. Kali ini untuk kesekian kalinya di tiap tahun saya menunggu. Menunggu sang kekasih atau siapapun itu namanya yang menancapkan busur-busur cinta dihati saya. Saya terluka namun candu asmara menyembuhkan saya dengan kelembutan dan lambungan itu. terasa luka itu menghilang dan datang, mengoyak pasir yang membatasi pulau hati yang saya bangun dengan butiran pasir. Dengan mudahnya, ombak asmara itu datang dan pergi, membuyarkan bangunan itu dan mengkokohkannya disuatu masa. Aku terima itu demi cintaku pada kamu dan demi janji kamu yang terus mengukir kuat di dada saya.
Bak mantra, syahadat dan basmalah yang sering saya lantunkan. Kalimat janji kamu terdengar. Sama seperti sekarang. Ketika banyak manusia yang berlalu lalang di dekatku. Tapi saya yakin dengan janji kamu. Saya yakin kamu akan datang entah di purnama keberapa. Ketika dunia menghujat, karena saya melewatkan banyak purnama karena kamu tapi aku tetap bangga. Bangga karena masih memiliki keyakinan akan cinta yang saya yakini akan ada akhirnya. Penantian saya pada kamu, entah kamu dimana namun saya yakin Tuhan akan mempertemukan kamu padaku.
Matahari berjalan, dia lagi-lagi tak ramah pada saya. Saya tersenyum dibuatnya karena saya sudah biasa. terbiasa dengan kesinisannya, dengan serangannya pada kulitku. Saya tahu ia hanya iri. Aku kemudian terdiam lagi. Aku bersiul ringan, membunuh masa yang terus berjalan menghujatku. Tapi kadang saya kalah karena mereka datang silih berganti dan membuat hati saya gundah. Saya bahagia? Mungkinkah itu. saya juga bertanya akan hal itu. namun ketika saya teringat janji kamu. Tiba-tiba ombak kegundahan itu menghilang. Saya yakin bahagia itu ada. mungkin bahagia itu tersembunyi diantara keyakinanku akan kedatangan kamu.
Kamu bilang bersabarlah. Ketika yang muda berkata kalau saya kuno, tahayul dan omong kosong. Kamu bilang roda akan terus berputar. Ketika satu masa mengangungkanmu, ketika satu masa menghujatmu dan ketika satu masa meninggalkanmu. Karena jika tanpa perputaran itu zaman akan terhenti.
“aku menyerah.” Kata saya pada diri saya.
Lalu rangkulan lembut beberapa dzat yang teraniaya dan yang terhardik nuraninya merangkulku dengan pelan. Ia berbisik……..
“jika tanpa apa yang kamu miliki kami kehilangan. Kehilangan tanah nenek moyang, kehilangan baju rajutan yang indah, bumi kehilangan aroma dingin itu. aroma yang mampu memberikan nafas bagi jagat raya.”
“aku bisa apa?” tanyaku kembali dengan segurat keputus asahan.
Mereka tersenyum sambil berbisik,
“sabarlah…demi tanah Lampung…!!!” selalu itu yang mereka katakan.
Dan seperti biasa saya mengingat kamu. Mengingat masa dimana kamu memanjakan saya. Mengingat bagaimana kamu mempercayai setiap jengkal diri saya. Memperhatikan setiap kata-kata yang saya katakan. Seolah saya adalah kearifan yang mengatur keseimbanngan. Ya…. Itu saya. Saya yang begitu kamu agungkan. Saya yang merupakan berbaris-baris kalimat yang mengatur keseimbangan. Ah…… betapa indahnya masa itu. antara saya dan kamu.
Kita mengalami sebuah kulminasi akan cita dan cinta. kamu merangkulku begitu dekat seolah tiada yang mampu memisahkan kita. Kamu bilang di sebuah masa kalau aku adalah… entah apa itu. kamu berbisik menyakinkan aku,
“kamu malaekat aku dan pegangan yang membawaku kesebuah kearifan local.”
Aku terhibur. Dan sebulir air mata siap menetes kembali. Aku usap kali ini. karena aku tahu bahwa apa yang aku lakukan adalah kesalahan. Perasaan adalah pengelana waktu dan mencintai kamu adalah babak terhebat dalam kehidupanku dan kusadari itu.
Lalu aku teringat kalimat kamu lagi,
“kamu adalah ibu yang memberi petunjuk. Suatu saat nanti aku akan datang padamu dengan tangisku akan kerinduanmu.”
Aku pegang janjimu. Aku seonggok dzat yang tak terwujud dan bermasa menunggumu wahai kekasihku. Karena hanya engkau yang mampu menjalankan aku. Kaulah yang punya kuasa atas diriku. Siapa aku? Aku adalah saya yang tak bisa melakukan apapun jika tanpa kamu. Mungkinkah engkau telah tiada? Dan kini hanya anak cucumu yang merawat bumi tanah Lampung yang telah hilang keindahannya. Terkoyak dengan mereka, kaummu yang mengadaikannya pada apa yang mereka sebut zaman globalisasi. Menjadikan permata hijau menjadi permata yang merah darah dengan aroma arang, menjadikan yang bening menjadih keruh bercampur darah dan menjadikan yang memiliki rumah tergusur di jalan-jalan lalu mati. Mati tercekik dengan jenjang jurang yang punya dan tidak.
Aku menghela nafas panjang melihat tentang ini. tentang mereka yang bersua menikmati emas dan keong-keong intan. Lalu aku terdiam, melihat bagaimana bumi hijau terampok dan tiada yang mampu melawannya. Kamu ada dimana kekasihku? Apakah kamu telah tiada? Apakah kamu juga berubah layaknya mereka?
“ Pulanglah ke tanah Lampung !!!” teriakkku…….
Laut bergelombang….. dia acuhkan salamku padamu.
“tak rindukah kamu pada kami? pada laut yang mengantarkanmu pada tanah pembebasan, pada hijaunya tanah hijau, pada beningnya embun yang menyejukkan dan pada ikatan rapat senyuman kamummu itu……. aku merindukannya sama rindunya dengan kamu.”
“pulanglah !” rintihku dengan membiarkan sebulir air mata menetes.
“tak usah kamu……… tangisi. Dia akan pulang dengan merangkulmu karena telah lama meninggalkanmu. Dia berubah mengikuti arus. Mencintai yang muda dengan kemudahan. Tabahkanlah hatimu… kamu adalah orang baik, ibu bagi yang lalu dan juga ibu bagi kami. kamu tidaklah kuno. Kamu adalah implementasi dari kami. jiwa Lampung local yang tahu akan isi jiwa kami. yang mengangungkan kami…… bertahanlah. Bersabarlah..!!”
Seorang wanita muda seusiaku tengah duduk tanpa permisi di dekatku. Gaun kuning marunnya membuat mataku silau. Aku iri dengan senyuman manis itu. aku iri dengan apa yang ia miliki itu. rasanya aku ingin menyobek mulutnya itu, tapi saat aku melihat bibir seksinya, aku ikut tersenyum. Ia menatapku dan kami saling menatap satu sama lain.
“anda cantik sekali.” Katanya dengan tiba-tiba. Kalimat yang sama yang kamu ucapkan pertama kali saat kita berjumpah.
“anda juga.” Kataku sambil tersenyum.
Lalu kami untuk sejenak tak saling memandang. Kami menatap muka jalanan dan mererawang jauh. Apa yang mungkin akan kami lakukan dimasa yang akan datang. ia memainkan jari-jarinya dan gerak tubuhnya mulai tak beraturan. Ia resah dengan apa yang ia lakukan, bosan dan aku tahu kalau ia ingin memaki-maki. Tapi ia tahan itu karena ia tahu harga dirinya akan jatuh jika ia lakukan itu.
“apa yang kau lakukan?” tanyanya.
“menunggu.” Jawabku dengan enteng.
“siapa?” tanyanya dengan enteng.
“entahlah…. Dia yang mempercayai aku, melakukan semua petuahku dan dia mencintaiku.”
“tidak.” Katanya dengan tiba-tiba.
“jika ia mencintaimu kamu sebagai petuah maka ia tak akan meninggalkanmu.”
Aku menoleh padanya. ia tersenyum, mengusir ketidak nyamananku. Lalu aku tersenyum menanggapinya. Anak muda yang tahu apa. Aku berada di kursi jalanan ini hampir seusia dua kali dirinya. Aku telah memakan asam garam penantian. Aku telah menatap setiap tingkah laku gadis-gadis import yang menyesatkan. Yang melingkari kamu, kekasihku. Tau apa gadis ini?
“aku tahu kamu sedang menunggu.”
“ya… aku memang menunggu.”
“kamu terlalu lemah sebagai seorang petuah. Kamu lupa untuk bertahan bukan meminta seseorang mempertahankan kamu.”
“apa ?” aku semakin terbengong.
“aku belajar dari kamu untuk bertahan. Belajar untuk tidak disisihkan dan belajar untuk menjadi abu-abu. Bukan hitam atau putih layaknya kamu.” Dia mengacungkan tangannya. Menatapku yang rentah ini dan tersenyum dengan manis.
Aku bersedih. Ku buang tatapan mukanya itu lalu aku berasandar pada yang mati. Dia tersenyum dan menjamah tanganku yang keriput.
“aku yang sekarang dan kamu yang lalu.”
Dia tersenyum dan melepaskan tanganku. Aku menghela nafas yang panjang dan rasa perih itu mulai Nampak. Perih rasanya ketika aku tahu kalau aku telah tua dan karena kondisiku, kamu meninggalkanku.
Lalu kami terdiam dengan sejenak dan dia tersenyum manis. Ya… ia beruntung karena Tuhan menyisipkan senyuman itu di bibirnya.
“kekasihmu memautkan dirinya pada kami. yang mudah… yang asing… yang memberikan janji kemudahan… yang menyuguhkan materi…. Yang pandai menyesatkan pandangan…. Yang mengelapkan mata….. yang tak memberi ruang pada mereka untuk tak memikirkan tentang materi…… kami jahat. Namun kekasihmu lebih jahat karena mengadaikan tanah Lampung pada jalanan yang semu.”
Aku gemetaran. Takut…. Karena jika kekasihku benar-benar melakukannya rusaklah semuanya. Aku gemetar dan anak gadis itu tersenyum. Ia menciumku dengan manja. Bibirnya yang dingin membuatku ingin bertanya siapa kah dia? Roh…. Peri… malaekat ataukah ia yang lainnya. aku merasa kami adalah sama. mungkinkah itu? tidak. Ia bilang kalau kami berbeda. Ia abu-abu dan aku putih. Ia masa kini dan aku masa lalu. bagaimana kami bisa sama.
Ia tersenyum lalu menyandarkan bahunya pada bahuku yang rentah. Ia kembangkan sayapnya yang lembut membuatku hampir terjatuh tersungkur. Ia lalu mengajakku menerobos waktu. Ia merentangkan sayapnya dan membuatku semakin menangis. Tanahku….. tanah Lampungku tak lagi ku kenal. Banyak ruang yang kosong yang terbentang dengan mayat-mayat tulang-tulanng tuan Hijau. Lalu aku terdiam. Melihat anak cucu kekasihku yang mengangungkanku dulu. Tertawa riang dengan semenah-menah mengusir mahluk yang berpunya atas tuan Hijau. Mereka tak memberi tempat pada mahluk itu. haknya dirampas dan dengan hati yang berat mereka menatapku. Seolah meminta pertolongan padaku. kukatakan pada mereka,
“aku tak mampu melakukan apapun. Kekasihku yang ku tunggu telah tiada. Yang ada hanyalah anak cicit yang tak mengenalku, aku putih dan mereka bilang aku kuno. Bisa apa aku? Aku hanya sebuah nyawa, kalimat dan petuah tanpa wujud.”
Mereka lalu menatap tanah. Pasrah pada kelakukan anak cicit kekasihku. Ember yang dulunya berisi kebeningan dan keheningan. Kini tergenang dengan keruhnya darah dan tangis mahluk yang tiada punya kuasa atas tempat tinggalnya, atas nyawanya dan atas kehidupan yang ia miliki.
Lalu mahluk wanita abu-abu itu mengajakku terbang. Menembus ruang dan masa. Dan ia perlihatkan kembali. Cicit-cicit kekasihku, yang bergaul dengan anak luciver. Mereka tidaklah putih atau abu-abu. Sesuatu menyeretnya bukan pada kodratnya. Pada kesesatan yang dengan mudahnya merenggut jiwa, pada eforia sesat dan pada yang hitam. Memuja setan jalanan bukan kaum berbudi.
Aku menangis. Tahu manakala mereka yang muda berjalan ke sebuah jalan yang salah.
“ini masa tanpa batasan…..” katanya pada sesamanya.
“bukan ini yang aku ajarkan…. Bukan ini yang kami inginkan. Kami ingin manusia mengenal satu sama lain. Terbuka, bertukar cerita satu sama lain dan…. Jangan salahkan aku atas semuanya.”
“ya… ini salahmu.” Kataku ketus.
“maaf jika itu benar.”
Dia berpaling dan menaruhku pada posisiku kembali. Ia terdiam dan aku merasakan penyesalan itu.
“ajari kami yang sekarang tentang yang lalu. yang kami pandang adalah yang akan datang. kami tak pernah melihatku sebagai petuah yang lebih tua dari kami. itu memang kesalahan kami. maaf…..”
Aku terdiam. Mugkinkah kami bisa mengubah tanah Lampung yang terkontaminasi menjadi Tanah Lampung yang hijau dan bermartabat lebih. Tanah Lampung yang ramah dan Tanah Lampung yang tanpa asap. Aku merindukan masa itu. ingin rasanya aku lepaskan anak … cicit kekasihku itu. tapi mungkinkah itu?
Lalu tangan yang muda dan sekarang tersenyum. Seolah ia menjanjikan sesuatu yang lebih dari sekadar harapan baru. harapan baru untuk bumi Lampung.
“Kita selamatkan bersama.”
Aku tersenyum dan kami tersenyum bersama. menatap tanah yang akan kami tekatkan menjadi impian bersama. antara aku yang lalu dan dia yang sekarang, akan mengantarkan kamu menjadi manusia yang bermartabat, bijaksana, arif karena kamulah Khalifah yang akan membimbing banyak mahluk dan menjadi pemimpin ditanah Lampung.
Marilah yang muda….. yang tua ….. bergandeng tangan menyelamatkan penggalan tanah Surga yang kita injak. Tanah Lampung yang menjadi rumah bagi mahluk hutan, rumah bagi pekerbunan, rumah bagi industri, rumah bagi serangkaian keramahan yang menyapa mana kala kita mengetuk pintu bumi Lampung. Bersama-sama menjali masa sekarang dengan belajar dari masa lalu dan menapaki harapan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Marilah…. Kita bersama….
Membangun, memelihara dan menjaga Tanah Lampung.
Aku, kamu dan dia bersama-sama….. selamatkan Lampung.
Ku tunggu kamu…


Bandar Lampung, 3 Juni 2009

NYANYIAN GAGAK


Perahkah kau terbayang akan terlahir dalam sebuah sosok yang menakutkan. Sebagai penjagal nyawa dan penghempas asah. Hanya mendengar suaramu mereka takut akan kematian. Tapi setidaknya aku beruntung masih bisa berkawan dengan melati, mawar dan kenanga. Tiga perawan indah namun nista yang mengiringi antara perpisahan yang menyakitkan. Bagaimana mungkin mereka tak berduka? Sedang berpuluh-puluh buliran itu tergerai jatuh tiada harganya disana. Di tanah tak bertuan tempat manusia yang menanti, yang terlupakan dan yang diperhitungkan.

Aku saksinya. Atas teriakan maaf, atas tawa kesabaran, atas keihlasan, kepasrahan, penghianatan, tangis pilu keterlambatan atas kesadaran dan hanya disanalah aku melihat kepedihan dan juga keadilan itu. aku tak seberuntung teman-temanku yang tak menyaksikannya dalam jangkah waktu yang lama. Aku juga tak seberuntung kutilang yang terbangun saat fajar, terbang bermain dengan awan dan berdendang gila kala siang dan kembali kala malam tiba. Aku bangsa mereka namun kenapa Tuhan begitu tega menjadikanku mahluk yang hanya berdiam menanggung semua takdir kelamku. Bernyanyi kala akan ada yang kehilangan dan ketika kami bersuara akan ada yang pergi. Terkutuklah Kami!

awas ada gagak datang !” kata kutilang suatu masa saat ia bertengger didekatku.

Aku merasa heran karena ini rumahku. Harusnya aku yang layak teriak demikian, kau pendatang yang menyesatkan.

Aku terdiam. Sudah biasa aku mendengarnya. Sementara itu stri kutilang tengah memeluk anaknya dengan erat. Siapa pikir aku ini apa? Aku jua mahluk yang sama dengan mereka. sayangnya aku terlahir dalam raga yang aku benci. Aku jua adalah mahluk ambang kematian yang bagaimanapun juga aku tak mampu mengelak atau bahkan menanggalkan jubah keseramanku dan menjadi mahluk bugil yang mengagumkan. Layaknya tubuh-tubuh yang berjejar rapi kala malam tiba.

aku tak datang tapi ini rumahku. Ini tempat ambang dan ini milikku. Tanah dimana ku dilahirkan.”

kami tahu.” kata kutilang jantan dengan jambul senada dengan ekor.

lalu.”

tanah kami tergilakan. Tertindas antara dibuang sayang dan tiada ada hak untuk kami. tiada yang murni dan yang ada hanya iklim kegilaan mengikuti.”

Aku terdiam. Terbisu dalam iklim yang selalu bertanya. Aku hanya sebuah saksi atas penjara dan keadilan sejati. Hanya saksi tanpa ku mengerti apa dosanya. Dosa mereka yang terlahir di luar tanahku yang jika aku kesana kutukan akan datang. tapi aku acungi jempol juga bagi mereka. mahluk munggil yang berani karena tak memiliki pilihan. Aku tersenyum namun aku tak berani bersenandung karena jika itu aku lakukan maka akan ada yang mati. Mahluk lain akan membayar mahal senandung serak laguku.

ya…. Pimpinan tanahmu memang gila. Menari-nari dengan sesuatu yang mereka buat. Tersibukan dengan tawa dan tangis yang tiada masalah dan menghilang dalam bara. Mengusir luka dengan menari bukan melampangkan dada.”

tapi tak semuanya. Ada yang tidak….. kau tahu kami berjumpa dengan yang baik diantara ladang kegilaan dan kengerian dan kau tahu ada yang baru.”

Aku melirik kutilang itu. dia menaikan jambulnya sementara wanita dan anaknya mulai terlelap dalam kelelahan. Dia menaikan jambulnya ladi. Bernyanyi dengan merdunya mengiri nina bobok keluarganya. Dan seketika semuanya seolah terhenti menyimak nyanyian itu jika di pandang kasat mata. Aku iri dengannya dan aku terus menatapnya, menghayati lagunya dan aku tahu ia tengah merindu pada tanah yang terasing.

ku tilang…. Ku tilang….. rumah…… adu…..hilang. Addduuuu….. pulllanng……. Tanah……nian…… hilanggg…….yang gillllaaa…..yangg…buat….”

Aku tersenyum miris dan ingin ku sahut dengan senandung kepedihanku. Tapi aku urungkan mana mungkin aku berani mengilangkan nyawa yang telah kehilangan. Yang berani memberanikan diri mendekatiku. Mengukur nyali karena tiada punya pilihan.

kau tahu ia cantik, secantik kaumnya. Masih belum terjangkit wabah, terindukan namun mengasingkan diri, terdiam dan kau tahu. ia cukup bijaksana untuk dikatakan manusia, cukup murni dan beku untuk tersentuh wabah dan cukup waras hingga kegilaan tiada berani mendatanginya.”

Aku hanya terdiam. Tiada peduli dan ku biarkan ia terlelap layaknya anak dan wanitanya. Aku mulai mengepakkan sayapku membela cakrawala dengan latar hitam berbingkai merah darah. Tanpa suara, tanpa senandung aku berkelana dan meneliti setiap jengkal tanah yang telah mewabah. Aku yakin besok aku akan banyak bersenandung. Bersenandung karena aku tiada akan bersedih. Aku bersenandung karena mereka mewabah. Hanya senandungku yang akan mampu mengangkat mereka, melepas mereka, menempatkan mereka pada suatu tempat yang tiada ada perkara hanya pertanggung jawaban. Itu hanya pikiran konyolku. Karena jika aku melihatnya, melihat kematian merenggut maka aku tahu. tahu betapa itu menyakitkan.

Mereka menari di bawah malam kala mahluk normal lainnya tidur dan esoknya mereka akan berjalan tiada henti tanpa ada yang memasuki akal. Terdiam terpaku, kala angkah berubah dan menulis yang tiada terjadi seolah-olah sesuatu ramalan yang nyata. Ramalan yang ditunggu dan mereka yakini. Dia terjungkal dan hampir terjungkal saat menelusuri antara yang hitam diantara yang hitam. Apa ini? tukasnya. Namun ia tiada peduli. Mungkin itu adalah bagian dari wabah yang menjangkit.

Lalu ada mereka yang menyulut dengan sadar tuan api. Lalu bersorak riang diantara pijaran api yang menghanguskan. Anehnya malah ia nikmati abu jasatnya bak dunia yang baru. gagak menggelengkan kepala. Inikah bagian yang ia lindungi? ia kecewa namun ia tak mau menghilangkan yang pernah ada. karena baginya mati itu sakit. Dia terbang melintasi langit gelap dengan samaran awan yang terlelap dengan beban kecewa yang memuncak.

Seberkas cahaya yang menyilaukan mata Nampak terlihat. Mulutnya terngangah saat ia menatapnya. ia terpana melihatnya yang berbalut. Berbalut dalam derajat terendah dari kebingungan. Gagak melihat mereka menari-nari. Ia kebingungan. Dihempaskannya sayapnya dan bersenandung seolah ingin jadi pahlawan yang melepaskan kedukaan itu. dia yakini itu. namun itu tidaklah memasuki akal bagi yang tertolong. Caci maki terdengar di telinganya. Bahwa mereka lebih baik mewabah. Berputar diantara kengerian dan eforia yang utopis.

Lalu ia berhenti sejenak. Dilihatnya yang putih bersinar diantara yang hitam. Sesosok merpati, ia rasa bukan….merpati kalah elok dibandingkan mahluk itu. mahluk setengah manusia dan setengah Dewa yang berjalan sebari memandang. Lalu mahluk itu menyepi. Meninggali kawasan antara ambang kehidupan dan kematian. Manusia memandang mahluk suci itu bak kesaingan. Keasingan atas duniawi yang mewabah dianggaplah normal. Cercaan bagai hempasan angin yang menanggalkan kelopak mawar, melati dan kenanga. Tapi mahluk itu hanya terdiam. Ia tahu…. dengan pasti kalaulah menghadapi manusia yang terwabah hanyalah bersabar.

Secara naluri gagak bersimpati. Awalnya biasa… namun gagak tak bisa tidur di siang hari karena memikirkannya. Memikirkan manusia setengah dewa dengan gaun yang menjuntai. Menari-nari diantara hempasan kenanga, melati dan mawar. Ia juga mendengar nyanyian itu. nyanyian yang merdu hingga burung-burung itu ikut bernyanyi. Ia ingin bernyanyi juga… ingin seperti burung bulbul, parkit, merpati, dara, kutilang dan siapapun itu bahkan termasuk burung hantu. Hanya gagak yang harus berdiam diri memegang teguh kodratnya sebagai burung pencabut nyawa.

apa itu temanmu?” Tanya mahluk itu pada burung hantu.

uhhhhuuuu….uhhhhuuuu.”

temanmu yang malang, tidakkah kau ingin mendengar nyanyiannya.”

Burung hantu hanya terdiam. Ia lalu bercerita tentang nyanyian kelam pencabut nyawa milik gagak. Gagak hanya terdiam dalam lamunannya. Ia terus menatap percakapan mahluk dengan gaun putih menjuntai itu. Wanita itu lalu tersenyum. Ia melambaikan senyuman seketika. Gagak meluluh hatinya. Ia merasakan apa itu cinta untuk pertama kalinya. ia merasa begitu senang karena untuk pertama kalinya seorang mahluk suci dan murni memahlukannya.

Ayooo.. kemarilah….!!! Besamaku…” katanya sambil melambaikan tangan.

Gagak menolak, tapi ia merasa luluh saat mahluk suci itu bernyanyi. Entah darimana suara merdu itu. suara yang membuat sesaat bumi terdiam dan wabah itu terhenti. Begitu hening, lembut, maknawi dan beribu-ribu panah itu tertancap. Gagak terkenah. Ia tak bisa mengelak dari racun kasmaran itu. mahluk itu dengan tangan yang sempurna mengelus tubuh gagak itu. seolah ia tak sadar kalau ia bermain dengan detik kematiannya sendiri.

Mahluk lainnya bersembunyi dalam sarangnya, menyembunyikan dirinya dari segala hal yang akan membangunkannya. Ia takut malaekat kematian yang terlepas dari tempat asalnya menjemputnya. Sia-sia memang namun, ia ingin nikmati dunia ini. barang sejenak……

kau pendiam sekali….. tubuhmu kurus, apakah kau pernah bahagia?”

Gagak hanya menggeleng menyembunyikan duka dalam kekelaman yang ia bawa.

apa kau menderita?”

Gagak juga tediam. Tiada lebih menderita dibandingkan terlahir sebagai mahluk symbol petaka.

kematian yang mereka takutkan bukanlah buruk.”

Gagak menoleh.

kematian bukanlah akhir yang membawa petaka bagi kita. Kadang kau tahu kematian… adalah bagian dari sirklus kehidupan. Bagi yang tertindas dan baik, kematian adalah pembebasan.”

Gagak terdiam, lalu bibir manis memerah itu menyentuhnya. Menyentuh ubun-ubun yang hampir membatu. Ketenangan memasuki ruang terdalam dari hati yang merasa membawa kutukan.

kau harus jalani hidupmu. Menyanyilah bersamaku karena kau bagian dari takdir ini.”

Gagak menatap mata teduh yang tiada membawa kebohongan. Dia percaya dan membuka mulutnya. Membiarkan manusia yang mewabah mendengarnya. Tanpa kobaran api satu persatu manusia itu melayang dalam mimbar dengan penuh keadilan. Terbebas dari wabah dan mereka tak tahu kenapa. Ada yang pergi dengan luka, ada yang panic dan ada yang bahagia. Manusia dalam bebagai perasaan melayang-layang melewati ambang itu. seperti hembusan angin yang dasyat namun gagak tak peduli. Ia benyanyi… ia sadar bukan salahnya. Ini sirklus kehidupan. Harusnya ia terima itu, bukan terpuruk dalam kekelamannya sendiri. Sirklus bukan salahnya. Tuhan yang merangkainya. Merangkai sebuah masa yang seimbang termasuk dirinya. Ia sadar bahwa sekarang butuh keseimbangan.

Belum terlambat.” Kata mahluk itu dengan senyuman yang menghipnotis.

Ia sadar lalu membuka selebar-lebarnya pita suara itu dan dilihatnya mahluk itu bagian dari mereka. mahluk itu terbang… meninggalkan jasatnya. Bak kepompong yang merekahkan kupu-kupu. Tapi mahluk itu tak hendak pergi. Ia terus tersenyum berada di samping gagak. Sementara gagak agak sedikit gusar.

keseimbangan.” bisiknya.

Disentuhnya dada gagak untuk menyakinkan bahwa itu adalah keseimbangan. Gagak berani melakukannya. Dengan menutup matanya dan bulir air mata yang menuruni pipinya. Ia bernyanyi. Sementara mahluk berbenar itu menikmatinya. Jasadnya menari-nari. Seolah ini yang seharusnya terjadi.

gak….ngakkkk…. ngakkkkk……ggagggakkkk”
Gagak terus benyanyi…… bernyanyi….. dan mahluk itu terus mendampinginya. Ia tahu, dengan begini ia mampu melepaskan wabah itu dari mereka. mengembalikan kebesan bagi mahluk yang disebut manusia. Membebakan mereka meski dengan kematian dan untuk pertama kalinya gagak bahagia. Ia merasa menjadi mahluk yang bebas dan tak menyesali terlahir sebagai mahluk hitam. Ia sadar ia bagian dari takdir dan hanya memainkan perannya sebagai ciptaanNya. Bukan pilihannya terlahir sebagai pelambang pencabut nyawa. Ia seolah ingin menahan itu, dengan menumpuk semua beban ada di pundaknya dan itu sebuah pilihan yang salah. Ia ingin mahluk lainnya tetap lestari, namun apa daya mereka telah terwabah. Percuma juga dipertahankan karena akan membunuh yang lain.

Mahluk berbenar itu terdiam. Didengarnya lagu itu dengan seksama. Matanya yang dalam memancarkan sinar kedamaian. Sebuah pembebasa dan juga penyadaran akan takdir baru saja ia lakukan. Tuhan inginkan itu darinya. Jawabanya dengan pelan, mana kala perlahan nafas itu berkurang, ruh itu terbang sedikit demi sedikit meninggalkan jasadnya layaknya air yang mengering. Dia menyentuh gagak itu, bukan untuk menghentikannya melainkan agar gagak terus bernyanyi. bukanya kerongkongannya agar gagak terus bernyanyi, Ia ikut bernyanyi bersama gagak.. hingga nafas tertanggalkan. Dia Nampak begitu senang menyanyikan lagu kematiannya yang bak pahlawan. Menyanyikan lagu kematian tentangnya yang indah, tentang kematian moral kaumnya, tentang ibu bumi, tentang lagit yang gelap, tentang jiwa yang terkekang dan tentang akal yang tersesat.

Nyanyian itu terdengar begitu merdu. Sang mewabah terhenti, mereka ketakutan dan tak merasa kalau mereka terkena wabah. Mereka berlari kocar-kacir, bersembunyi dibawah sekam yang melapuk dan diingatnya Tuhan. Kematian masal jawabNya, dan nyayian gagak itu menjadi. Terdengar bak mentari yang mengisi jengkal alam dari jenggala hingga susu. Dipenuhinya rawa perkotaan dengan lengkingannya yang mencekam. Sebuah musibah, kata mereka lalu diaraknya ombak menuju daratan, menghempaskan kata normal akan jangkauan. Bencana teriak mereka. dengan nyanyian yang penuh semangat, dibangunkannya tuan Api. Ia terbangun, bukan dari ibu bumi tapi dari cahaya suci. Tuan api, ibu api, anak api dan sanak familinya menari-nari kegirangan. Seolah batasan antara yang muda dan tua tiada berarti. Dia ikut berdendang dengan suara gagak yang merdu. Kata anak muda api, ini adalah lagu riang yang mewakili kita sebagai api. Mahluk penghancur, mahluk jahat kata mereka.

Lalu ibu api, menatap anak muda bagiannya, “ kita hanya terlahir tanpa pilihan. Yang jahat dalah yang mewabah. Mereka punya pilihan….. tapi enggan memilih yang baik. Jalani saja takdirmu seperti gagak.”

Anak muda api hanya tersenyum. Ia kembali menari, dihempasnya akasia, sono, damar, rotan yang mengering. Dan mawar, melati dan kamboja lambing kematian tersenyum bak serigala berbulu domba. Mereka senang karena sebentar lagi jayalah kaumnya. Kaum pengantar kematian.

terus Gagak…!” teriak melati.

Gagak tak mendengar, ia terlalu asyik bernyanyi. Ia lupa mahluk yang ada disampingnya telah terbang meninggalkannya. Dia terbang dengan senyuman bulan sabit, mengatakan pada Tuhan,

telah ku kembalikan ia jadi mahluk yang tak menyiksa dirinya. Ku korbankan itu… dan kini aku siap berada disampingmu dan siap engkau tugaskan kembali.”

Gagak mendengar suara itu. ia terhenti…. Dan menatap seonggok tubuh putih yang tak kehilangan sinar berada di dekatnya. Ia hendak bersedih dan menangis. Tapi saat menatapnya, seolah rasa bahagia itu ada. meski hanya bangkai yang ada di dekatnya. Ia ambil bangkai itu. ia cengkram kuat-kuat dan ia bawa kesarangnya. Sepanjang perjalanan ia melihat kegelapan dan cahaya surya mulai menyapa. Sejenak bumi menyepi dalam kesadaran akan mahluk mewabah. Mahluk-mahluk dalam seputaran waktu sadar, sadar akan wabah yang menjerat tanpa sadar itu.

Ah…. Sudah terlambat…. Kata Gagak!”

Ya… terlambat untuk sadar dan aku yakin hanya sejengkal gerak bumi pada surya mereka tersadar lalu kembali. Kembali gagak bernyanyi dengan mayat mahluk berbenar itu.

Si Penjual Terasi


Penjual pisang tengah berjejal penuh masak diantara gugusan pelepah pisang yang memadat. Aku marah diriku sendiri. Marah pada ketidak tahuanku akan tipu muslihat disetiap bidikan pelepah pisang. Mereka menyerap air tiada tersisa untuk yang lain, tetap hijau ditanah yang ia gembosi tiap harinya di zaman aku terlahir sebagai remaja.

Tiada mampu kuasa yang lain bertanya kenapa sebab musababnya dan apa yang akan ia berikan setelah ia mengambil. Tiada yang bisa menjawab. Dan seorang nenek yang berada di bawah pohon sono itu tersenyum seolah apa yang aku pertanyakan adalah sesuatu yang konyol. Ia tertawa tentang kami kaum mudah yang bertanya. Ia tahu rahasia kehidupan bijak namun licik dan ia tahu manusia macam apa yang ada di atas kami.

untuk perut mereka mencuri… untuk kekuasaan mereka berbohong.”

Aku hanya terdiam. Tak percaya dengan titah nenek tua penjual terasi itu. bagaimana mungkin ia tahu tentang kehidupan sementara ia tak pernah mampu menjulang masa tuanya dengan karier yang membanggakan. Apa hebatnya penjual terasi? Pekerjaan yang terakhir yang akan dipikirkan oleh seorang anak muda yang pandai namun putus asah karena ekonomi dan pupus karena dunia pendidikan tak pernah memihaknya.

Si anak hanya terdiam, ia acuh tak acuh dengan tetuah si nenek. Ia lalu dengan pongahnya meninggalkan si nenek karena bau terasi yang menyengat. Ia kalap dengan ketidak adilan pada takdir negeri ini yang selalu menolong yang mampu dan meniadakan yang tiada mampu. Sikap egois dan idelismenya akan kesempurnaan yang ia idamkan menyeruak. Yang ada di jiwanya hanya sikap keluh kesah dan kepupusan itu.

Si nenek malah tak ambil pusing. ia terdiam membiarkan aroma terasi menyeruak di lorong pasarnya. Tak jarang mengunjung menutup hidungnya dan mereka lalu mau menyantapnya dalam porsi-porsi sambal yang menggiurkan. Dia sudah lama menatap pembeli yang munafik itu. pembeli yang mengatakan tidak pada barang mentah dan mengatakan suka pada sesuatu yang telah matang dan siap di makan. itulah pribadi yang tertanam dari si bapak pada anak. Mana banyak bapak yang mengajarkan kerja keras pada anaknya, kini si bapak tengah sibuk menempuh jalur cepat namun menguntungkan walau dengan cara licik sekalipun.

Lalu seorang anak laki-laki sekolah menatapnya sebagai potret manusia yang gagal dalam kehidupan. Harusnya orang tua sekaliber dirinya sudah tak lagi berada di pasar dengan mengais lorong hanya untuk makan. harusnya ia sudah pension seperti omahnya.

omahku… adalah pensiunan pegawai negeri. Kalau kita rajin belajar maka kita akan sukses seperti dia. Dan jika kita rajin belajar maka kita bisa menikmati hari tuanya.”

Si nenek juga tersenyum seraya menghina ucapan anak sekolah itu. anak sekolah berseragam abu-abu itu hanya terdiam. Ia buru-buru menutup hidungnya mana kala aroma terasi terbawa angin menjamah hidungnya.

percuma kau belajar rajin jika kau tak didukung mereka. bagaimanapun uang akan mengubah jalanmu lebih mudah.”

kepandaianlah yang mengubah semua.” Jawab anak itu.

jika kau punya uang dari mamak…. Nini… atau dari keluargamu itu akan muda. Kau adalah binatang yang aku yakin tak akan mampu hidup bebas di rimbah kemiskinan.” Nenek itu bicara seolah ia tahu apa yang ia bicarakan.

Nenek sengaja mengatakan apa yang ia ketahui. Agar si anak-anak tak mengantungkan diri pada empuhnya. Mengatakan dengan sedikit kesadaran bahwa uang adalah jalan memuliakan tujuan, mempermuda jalan dan memuluskan lagkah.

buat apa beruang jika tak pintar?”

buat apa pintar jika tak beruang. Tahukah engkau berapa manusia lebih mumpuni hidup di lorong ini? dia lebih pandai darimu dan giat belajar darimu tapi dulu sebelum mereka sadar betapa tiada banyak dukungan pada mereka….”

apa?” anak itu mendekati penjual terasi itu. “ tahu apa nenek tentang sekolah? Jikalau nenek hanya mencari udang dan melumatkannya.”

disana.. anak memanggul itu adalah juara kelas. Ia tak bisa kuliah karena keterbatasan biaya… toh akhirnya ia kembali menjadi miskin.”

Nenek itu menunjuk kearah seorang anak laki-laki yang tengah menaruh sekarung beras di atas becak. Ia lalu kembali memasuki lorong lain di pasar yang lain.

lihatlah disana… bapaknya orang kaya dan dia tengah asyik menaiki mobil dinas meski jika kau Tanya sesuatu padanya kau tak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan.”

Nenek itu menunjukan ke arah pegawai negeri yang tengah asyik menaiki mobil dinas dan berjalan ditengah lorong sempit tanpa ada rasa hormat sedikitpun. Mengacuhkan yang ada… dan inilah duniamu… negaramu dan bangsamu yang semakin….. rendah.

Si anak tak ambil pusing. ia yakin apa kata gurunya untuk mengantungkan cita-cita setinggi langit. Karena dengan cita-cita itu kita akan maju dan terus ingin berjalan untuk menggapainya atau mungkin berlari. Dan si nenek hanya terus berkata tentang realitas kehidupan tentang banyaknya mahluk cerdas nan terbuang. Tentang pupusnya keinginan untuk mengubah takdir dari selembar kertas yang disebut ijazah itu.

Dengan kertas yang ditempuh dengan uang itu semuanya akan mulus. Tapi ia kemudian memiliki satu pertanyaan bagaimana jika dia tak lebih pandai dari yang tiada memiliki? Jawabannya adalah kualitas…kualitas yang diwakili lembaran kertas itu. terwakilkan namun tak sepenuhnya mewakili.

lalu kenapa kau hanya menjadi pedagang terasi jika kau adalah orang pandai?”
karena negaramu tak memberikan banyak ruang bagi yang pintar namun negaramu memberikan banyak ruang bagi yang beruang.”

tapi ada orang miskin yang bisa sukses dengan kepandaiannya? Kata anak SMA itu sambil mendekati nenek tua itu untuk menatangnya.

berapa yang pandai dan sukses itu, hitung dengan jarimu..! badingkan dengan yang tak pintar namun beruang dan dengan praktek nepotisme negaramu itu yang bisa hidup dengan layak.”

Si anak SMA hanya meninggalkan nenek itu. ia berpikir bagaimana ia bsa percaya dengan nenek penjual terasi, ia akan lebih percaya dengan kalimat para mahluk berkera putih. Realitas terlalu kejam untuk dimengerti bersama.

Si nenek terus saja terdiam. Ia ingin mengajarkan pada mereka tentang realitas yang bertaut dengan mimpi yang menina bobokan remaja dengan angan mimpinya. Ia terdiam, berpikir apakah jika seandainya ia memiliki cucu maka cucunya akan seperti itu. seperti para rusa-rusa munggil yang berada di tempat yang tak sementinya.
Akankankah jika cucunya benar-benar hidup kini akan lupa akan adat muasal moral? Ah… syukurlah ia tak memiliki anak cucu. Si nenek meninggalkan pasar dengan berbekal karun goni yang berisi pisau dan sebongkah terasi yang berbau. Sepanjang jalan orang-orang menghindari bau itu. Mereka keburu merasa jijik dengan apa yang nenek itu bawa dari pada menolongnya. Mana ada yang tak tahu kalau nenek itu tengah kepayahan karena berkali-kali tertabrak dengan bahu-bahu yang lebih kekar darinya.

Dia terdiam. Nafasnya tersengkal dan buliran keringat mengucur di bahunya. Ia tengah bingung harus mengambil jalan pulang kemana. Pikunnya mulai tumbuh, mungkin lorong sana yang harus ia ambil, atau mungkin lorong yang lain yang ada disebelah sana atau mungkin lorong yang lain atau mungkin jalan lorong yang sedang ia titih adalah jalan keluar menuju jalanan yang tenang. Ia bingung dengan banyaknya suara yang datang. menghujat jalan hidupnya namun tak ada seorangpun yang bertanya apakah ia memilihki kesempatan untuk memilih yang lain.

Dia terdiam terpaku. Tubuhnya lemas dan berharap seseorang akan menopang tubuhnya yang rentah itu. namun ala… mak!!! tiada yang mau peduli dengan wanita tua yang bertubuh kurus kering dengan terasi yang ada di pundaknya.

inikah aku? Tiada berguna, benar apa yang dikatakan si anak-anak itu….. benar apa yang dipikirkan masyarakat. Namun apa hak mereka untuk menghakimi aku.”

Wanita itu tengah memandang dunia yang enggan ia titih kembali. Terlalu banyak hujatan dari pada pemberian yang melegahkan hati. Terlalu banyak cacian dari pada penghormatan, terlalu banyak omong dari pada tindakan, terlalu banyak suar-suar penindasan atas si miskin dari pada ringan tangan si kaya. Dunia macam apa ini? bukan tepatnya zaman apa kini?

Si nenek lalu memandang beberapa anak-anak SMP yang tengah merokok di atas sepeda motor. Ia menangis ibah, akankah harapannya terpangku oleh anak-anak yang bahkan tak mengerti akan belas kasihan, ibah dan juga penghormatan akan. Ia lalu menoleh pasa sekelompok gadis SMA yang berjalan menenteng tas belanjaan dan juga tas yang mungkin aku yakini isinya hanya segelintir buku bukan segepok ilmu. Gadis itu lebih tertarik membicarakan gerai-gerai baju baru dari pada rentetan rumus. Akankah ia titipkan rahim ibu negeri pada rahim yang ia yakini otaknya hanya otak ikan tongkol. Lalu si nenek tersenyum dan menengadah kembali,

ah… alangkah beruntungnya aku tak terlahir pada zaman yang buta akan mimpi….”

Dia lalu menoleh pada anak-anak muda. Bagaimana ia bisa bayangkan anak yang akan meraih gelar satunya akan mati esok karena over dosis. Dia hanya tersenyum, dan sedikit berkata? Inilah generasi muda negaramu yang entahlah. Bapaknya bejat anaknya juga lebih bejat. Sebagai penonton saja ia muak, ia jengkel namun apalah daya dari kejengkelan seseorang yang ditasbihkan tak memiliki hak berkomentar. Derajatnya adalah rendahan. Itulah yang terjadi. Dia perlahan terhenyak dengan sebuah suara halus dan uluran tangan yang lembut. Dia menurut saja. Ia berjalan.. nun..nun…nun… jauh dan hanya terfokus pada titik kiblat.