Jumat, 13 Januari 2012

tehnologi dan manusia


BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah
Bicara tentang kehidupan manusia pada masa sekarang ini, tidak akan lepas dari kata “Teknologi“. Apalagi pada saat sekarang dimana arus globalisasi telah menyerang dalam segala bidang kehidupan umat manusia. Teknologi berjalan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia.  Hasil teknologi telah merasuk dalam kehidupan sehari- hari baik kehidupan manusia diberbagai belahan dunia sedemikian rupa, sehingga orang menganggapnya sebagai suatu hal yang lumrah dan biasa-biasa saja. Kemajuan teknologi berlangsung secara berkesinambungan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak pernah berhenti. Dengan mengembangkan metode-metode, baha-bahan, dan sistem supaya mendapatkan hasil yang bermanfaat, praktis, menyenangkan, dan aman untuk digunakan semua orang. Orang tidak lagi mempertanyakan bagaimana suatu alat pertama kali ditemukan dan bagaimana alat tersebut sampai dapat bekerja demikian. Jika dahulu orang menempuh jarak ribuan km dalam waktu beberapa tahun, kini dapat ditempuh hanya dalam waktu beberapa jam saja. Seorang  anak Jakarta misalnya, dapat berbicara langsung dengan ayahnya yang berada di Jepang dengan hanya mengangkat gagang telepon dan membayar beberapa ribu rupiah saja. Orang masa kini dapat mendengarkan kembali suara orang-orang yang telah lama meninggal dunia. Dengan menggunakan komputer, orang akan dapat mengerjakan atau mengoreksi suatu pekerjaan secara cepat dan tepat. Manusia kini dapat memotret-motret permukaan planet Mars dan  Venus dan menjelajahi antariksa. Di bidang energi, manusia telah dapat memecahkan masalah dengan memanfaatkan sinar matahari untuk membangkitkan tenaga listrik secara langsung, dan masih banyak lagi contoh yang lain. Misalnya; dengan telah diketemukan alat komunikasi telpon orang dapat dengan mudah berkomunukasi dengan orang lain walaupun jaraknya sangat jauh, adanya alat-alat transportasi yang lebih canggih, maka orang akan lebih cepat dan lebih aman dalam perjalanan jarak jauh, dan ada pula manusia bumi yang telah dapat menjelajahi antariksa, dengan menggunakan komputer orang akan dapat mengerjakan, mengkoreksi suatu pekerjaan secara cepat dan tepat. Lebih dari itu, teknologi juga telah membawakan pemerataan. Semisal, bila .jaman dahulu hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menikmati hasil karya seniman musik terkenal, kini dapat dikatakan semua orang dapat menikmatinya dimanapun dia berada. Berkat kemajuan dalam bidang percetakan, maka lebih banyak orang yang dapat membaca buku atau karangan yang bermutu.


  1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas mengenai Manfaat Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Perkembangannya Dalam Kehidupan Manusia, maka penulis memberikan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian dan hubungan mengenai ILMU ALAMIAH DASAR dan Teknologi?
2.      Bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu pesat ?
3.      Apa dampak positif yang dapat diambil dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin hari kian pesat ?
4.      Apakah ada akibat negatif yang ditimbulkan dengan adanya ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu maju pada saat sekarang ini?
5.      Bagaimana pandangan Kebudayaan sekarang mengenai masalah perkembangan teknologi dan ILMU ALAMIAH DASAR ini?


3. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan yang dapat diambil dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Menjelaskan dampak positif dan negatif dari perkembangan teknologi ILMU ALAMIAH DASAR terhadap sumber daya manusia.
2.      Memberi contoh kemakmuran materi yang diperoleh dari dampak teknologi ILMU ALAMIAH DASAR bagi sumber daya manusia.
3.      Untuk mengetahui dan membandingkan antara teori dari bangku kuliah dan keadaan yang terjadi dari dampak teknologi ILMU ALAMIAH DASAR terhadap sumber daya manusia.
4.      Memberikan sebuah gambaran dan informasi tentang seberapa cepatnya ILMU ALAMIAH DASAR dan Teknologi itu berkembang dalm kehidupan manusia.
5.      Dapat digunakan sebagai referensi mengenai suatu perkembangan yang dinamis yang diakibatkan oleh ILMU ALAMIAH DASAR dan Teknologi.




































BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian Sekaligus Hubungan ILMU ALAMIAH DASAR dan Teknologi


Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, tentang devinisi teknologi atau pertukaran memiliki lebih dari satu devinisi. Salah satunya adalah pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material, dan proses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Sebagai aktivitas manusia, teknologi mulai dikenal sebelum sains dan teknik. Teknologi dibuat atas dasar ilmu pengetahuan dengan tujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Kata teknologi sering menggambarkan penemuan dan alat yang menggunakan prinsip dan proses penemuan saintifik yang baru ditemukan. Meskipun demikian, penemuan yang sangat lama seperti roda juga disebut sebuah teknlogi. Devinisi lainnya (digunakan dalam ekonomi) adalah teknologi dilihat dari status pengetahuan kita yang sekarang dalam bagaimana menggabungkan sumber daya untuk memproduksi produk yang diinginkan (dan pengetahuan kita tentang apa yang bisa dIlmu Alamiah Dasarkai). Oleh karena itu, kita dapat melihat perubahan teknologi pada saat pengetahuan teknik kita meningkat. Teknologi adalah satu ciri yang mendefinisikan hakikat manusia yaitu bagian arti sejarahnya meliputi keseluruhan sejarah. Teknologi menurut Djoyohadikusumo (1994, 222) berkaitan erat denegan sains (science) dan perekayasaan (engineering). Dengan kata lain, tekologi mengandung dua dimensi yaitu sciece dan engineering yang saling berkaitan satu sama lain. Sains mengacu pada pemahaman kita tentang dunia nyata disekitar kita, artinya mengenai ciri-ciri dasar pada dimensi ruang tentang materi dan energi dalam interaksinya satu terhadap yang lainnya.
Definisi mengenai sains menurut Sardar (1987, 161) adalah sarana pemecahan masalah mendasar dari setiap paradaban. Tanpa sains, lanjut Sardar (1987, 161) suatu peradaban tidak dapat mempertahankan struktur-struktur politik dan solusinya atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar rakyat dan budayanya. Sebagai perwujudan eksternal suatu epistemologi sains membentuk lingkungan fisik, intelektual, dan budaya serta memajukan cara produksi ekonomis yang dipilih oleh suatu peradaban. Pendeknya sains, jelas Sardar (1987, 161) adalah sarana yang pada akhirnya mencetak suatu peradaban, dia merupakan ungkapan fisik dari pandangan dunianya. Sedangkan rekayasa, menurut Djoyohadikusumo (1994, 222) menyangkut hal pengetahuan obyektif (tentang ruang, materi, energi) yang diterapkan dibidang perancangan (termasuk mengenai peralatan teknisnya). Dengan kata lain, teknologi mencangkup teknik dan peralatan untuk menyelenggarakan rancangan yang didasarkan atas hasil sains (http://www.wikipedia.com/teknologidanIlmu Alamiah Dasar/).
Makna teknologi menurut Capra (2004, 106) seperti makna ‘sains’, telah mengalami perubahan sepanjang sejarah. Teknologi, berasal dari literatur Yunani, yaitu Technologia yang diperoleh dari asal kata Techne bermakna wacana seni. Ketika istilah itu pertama kali digunakan dalam bahasa inggris di abad ketujuh belas, maknanya adalah pambahasan sistematis atas ‘seni terapan’ atau pertukangan, dan berangsur-angsur artinya merujuk pada pertukangan itu sendiri. Pada abad ke-20, maknanya diperluas untuk mencangkup tidak hanya alat-alat dan mesin-mesin, tetapi juga metode dan teknik nonmaterial.Yang berarti suatu aplikasi sistematis pada teknik maupun metode. Sekarang sebagian besar devinisi teknologi lanjut Capra (2004, 107) menekankan hubungannya dengan sains. Ahli sosiologi Manuel Castells dikutip Capra (2004, 107) mendefinisikan teknologi sebagai ‘kumpulan alat’ aturan prosedur yang merupakan penerapan pengetahuan ilmiah tehadap suatu perkerjaan tertentu dengan cara yang memungkinkan pengulangan. Memahami teknologi tidak dapat dipisahkan dari ilmu pengetahuan alam (nature sciece) dan rekayasa (engineering). Ilmu pengetahuan alam adalah input bagi proses ilmu rekayasa sedangkan teknologi adalah hasil proses rekayasa.


Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Berkembang
Menurut Adolf Portman, secara biologis manusia dIlmu Alamiah Dasarndang sebagai premature, karena manusia tidak memiliki daya penyesuaian terhadap lingkungan secara alami. Pada saat manusia bani lahir, tanpa perlindungan orang tua atau lingkungannya, manusia tidak dapat bertahan hidup. Tetapi kekurangan ini diganti dengan kemampuan manusia untuk menciptakan suatu lingkungan tiruan yang bentuknya beraneka ragam. Dalam hal ini manusia dibekali teknik untuk membuat lingkungan menjadi cocok dengan dirinya, sehingga muncul kebudayaan manusia sebagai hasil abstraksi manusia terhadap lingkungan dan permasalahannya. Makin tinggi tingkat kemampuan berabstraksi, makin tinggi pula kebudayaan orang atau bangsa tersebut. Teknik secara umum diartikan sebagai alat perlengkapan dan metode membuat sesuatu yang lebih mengembangkan ketrampilan manusia (http://www.wikipedia.com/teknik) . Pada dasarnya, teknologi adalah ilmu terapan, dan sebaliknya teknologi juga mendorong diciptakannya atau ditimbulkannya ilmu pengetahuan yang lebih maju (http://wikipedia.com/teknologi).
Berikut merupakan fase-fase teknik yang menunjang dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sebagai berikut:
1.      Fase teknik destruktif
Pada fase ini, untuk memecahkan segala permasalahan dan kebutuhannya, manusia langsung mengambil dari alam, tidak ada usaha untuk mengembalikannya ke alam. Artinya manusia hanya mementingkan mandapatka materi saja dari apa yang telah diambil dari alam. Contohnya: dalam penebangan pohon dihutan yang akan digunakan untuk perabotan rumah yang berkualitas, manusia tidak menanam bibit pohon sebagai ganti telah menebang pohon.
2.      Fase teknik konstruktif
Masyarakat pada fase ini telah mampu melakukan penciptaan sehingga menghasilkan kebudayaan baru yang sebelumnya tidak terdapat di alam. Dengan penciptaan baru ini, sedikit demi sedikit manusia telah menciptakan lingkungan baru yang selalu bermodalkan alam sekitar sehingga merupakan “the second nature” atau “ alam kedua”. Contohnya: manusia membuat hutan buatan yang didalamnya digunakan sebagai penelitian dan untuk menciptakan obat-obatan herbal dari alam dan tumbuhan.
3.      Fase modern
Fase ini merupakan puncak perkembangan teknik yang telah dicapai manusia. Teknik modern ini bertitik tolak dari analisa matematis alam, sehingga manusia mampu membangun suatu peradaban baru, yaitu peradaban mesin. Ciri peradaban mesin diantaranya adalah kesatuan bahasa internasional sebagai pengantar dan diciptakannya bahasa simbol yang satu, seragam, dan internasional, yaitu bahasa “matematika”. Contonya: masyarakat yang memiliki kesibukan yang tinggi ingin melakukan suatu dengan tanpa membuang tenaga, maka diciptakanlah robot-robot yang dapat membantu manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pekerjaan didapur, pekerjaan rumah tangga, sampai pekerjaan dikantor.
Adapun tingkatan teknologi yang dapat menggambarkan suatu masyarakat itu modern dengan memakai alat-alat yang sangat canggih atau masyarakat itu maju tetapi dengan menggunakan suatu alat yang sederhana.
1.      Teknologi Tinggi (Hi-tech)
Suatu jenis teknologi mutakhir yang dikembangkan dari hasil penerapan ilmu pengetahuan terbaru. Contoh : komputer, laser, bioteknologi, satelit komunikasi, dan sebagainya. Ciri-ciri teknologi tinggi ini adalah padat modal, didukung rasilitas riset dan pengembangan, biaya perawatan tinggi, ketrampilan operatornya tinggi, dan masyarakat penggunanya ilmiah. Sekarang ini banyak sekali negara-negara maju sedikit demi sedikit menerapkan Teknologi Tinggi (Hi-tech) ini, semisal di Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan lain sebagainya.
2.      Teknologi Madya
Suatu jenis teknologi yang dapat dikembangkan dan didukung masyarakat yang lebih sederhana dan dapat digunakan dengan biaya dan kegunaan yang paling menguntungkan. Ciri teknologi madya adalah tidak memerlukan modal yang terlalu besar dan tidak memerlukan pengetahuan baru, karena telah bersifat rutin. Penerapan teknologi madya ini bersifat setengah padat modal dan padat karya, unsur-unsur yang mendukung industrinya biasanya dapat diperoleh di dalam negri dan ketrampilan pekerjanya tidak terlalu tinggi. Sebagian masyarakat Jepang menerapkan teknologi madya ini. Sebagian masyarakat Jepang membuat suatu boneka dari kayu yang sudah sanat terkenal dibelahan dunia.
3.      Teknologi Tepat Guna
Pada umumnya sebagai teknologi madya dengan tingkatan yang lebih sederhana. Teknologi ini dicirikan dengan skala modal kecil, peralatan yang digunakan sederhana, dan pelaksanaannya bersifat padat karya. Biasanya dilakukan di negara-negara berkembang, karena dapat membantu perekonomian di pedesaan, mengurangi urbanisasi dan menciptakan tradisi teknologi dari tingkat paling sederhana. Teknologi tepat guna ini sering disebut juga teknologi pedesaan (rural technology) atau teknologi pribumi (indigeneus technology). Contonya dalam Masyarakat Indonesia sendiri, tepatnya masyarakat Bali. Masyarakat Bali hampir seluruhnya membuat kesenian baik itu berupa lukisan, patung, maupun karya-karya dari tangan (anyaman) yang menguntungkan dan mambawa hasil yang baik dari membuat kesenian tersebut.


Dampak Positif ILMU ALAMIAH DASAR dan Teknologi Bagi Umat Manusia
Dari zaman ke zaman teknologi dan perkembangannya akan berubah sesuai dengan perkembangan zaman atau bisa disebut dengan istilah dinamis. Pengembangan teknologi dibuat untuk memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari yang melipui kebutuhan primer, sekunder, dan beberapa kebutuhan yang tidak kalah penting lainnya. Berikut mengenai rincian tentang kebutuhan manusia yang dibantu dengan adanya perkembagan ILMU ALAMIAH DASAR dan Teknoloi sebagai berikut:
1.      Kebutuhan Primer, adalah kebutuhan yang mau tidak mau harus terpenuhi untuk mencukupi kebutuhan manusia agar dapat bertahan hidup (kamus Bahasa Indonesia, kebutuhan primer, 2001), yang meliputi;
a)      Sandang
Manusia sebagai mahluk susila memerlukan pakaian. Mula-mula pakaian yang dikenakan hanya untuk menutupi auratnya saja, kemudian pakaian juga berfungsi untuk melindungi diri dari sengatan panas dan udara dingin (kamus Bahasa Indonesia, sandang, 2001). Sekarang, pakaian mempunyai fungsi yang lebih luas lagi, yaitu untuk kenyamanan dengan menciptakan jenis pakaian yang sesuai dengan kebutuhan, misalnya pakaian tidur, pakaian olah raga, pakaian kerja dan sebagainya, bahkan sekarang orang beranggapan bahwa dapat menunjukan status sosial pemakainya. Kebutuhan manusia yang makin meningkat juga mendorong untuk menciptakan manusia teknologi yang dapat meningkatkan mutu dan jenis bahan pakaian. Sekarang manusia tidak hanya mengandalkan serat-serat alami untuk membuat bahan pakaian, tetapi dapat juga membuat serat-serat sintetis dari pokok-pokok kayu (benang rayon) maupun dari bahan galian seperti hasil sulingan batu bara dan minyak bumi (poliester, polipropilen, polietilen).
b)      Pangan
Pangan merupakan kebutuhan pokok manusia untuk dapat bertahan hidup (kamus Bahasa Indonesia, pangan, 2001). Kebutuhan pangan ini terus meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya, sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Usaha untuk memenuhi kebutuhan pangan biasanya dilakukan dengan cara ekstensifikasi, yaitu dengan memperluas lahan pertanian, dan dengan intenstfikasi, yaitu dengan meningkatkan mutu melalui pemilihan bibit unggul, cara penggarapan yang lebih baik, pemeliharaan tanaman yang lebih teliti dan pengolahan pasca panen yang lebih sempurna. Dengan memanfaatkan ILMU ALAMIAH DASAR dan teknologi yang makin berkembang manusia dapat menciptakan bibit unggul dengan teknik radiasi, rekayasa genetika, dan sebagainya. Penggunaan hormon tumbuhan yang mampu memacu tumbuhnya daun, bunga ataubuah lebih lebat atau lebih cepat. Penggunaan mekanisasi pertanian juga membantu manusia dalam mengolah lahan dan memungut hasil panen dengan lebih cepat.
c)      Papan
Dalam masa yang masih tradisional pembuatan rumah sangat tergantung pada bahan- bahan yang ada di sekitarnya. Misalnya di daerah pegunungan atap dibuat dari ijuk, di daerah pantai dari daun rumbia, di daerah yang kaya akan kayu, seperti di Kalimantan, orang membuat atap dari sirap, di Toraja memakai bambu, sedangkan di Nusa Tenggara menggunakan ilalang. Sejalan dengan makin meningkatnya kebutuhan manusia akan tempat tinggal, terutama di kota-kota besar, di mana lahan untuk pembangunan rumah semakin sempit, maka manusia berusaha membuat rumah bertingkat dan menggunakan bahan-bahan bangunan yang makin ditingkatkan kualitasnya. Fungsi rumah juga tidak lagi hanya sekedar untuk bertahan diri dari cuaca yang tidak menguntungkan dan berlindung dari serangan binatang buas, tetapi sudah merupakan tempat tinggal yang memenuhi rasa kenyamanan dan keindahan (kamus Bahasa Indonesia, papan, 2010).
2.      Kebutuhan Sekunder, kebutuhan sekunder manusia timbul setelah kebutuhan primernya terpenuhi, terutama berupa kebutuhan akibat manusia makin memerlukan hubungan dengan manusia lain. Antara lain diperlukan industri untuk memenuhi kebutuhan manusia secara massal, transportasi yang diperlukan untuk mengangkut barang-barang kebutuhan dari satu daerah ke daerah lain atau diperlukan untuk hubungan manusia dari satu daerah ke daerah lain, kesehatan yang makin terjamin, dan lain sebagainya, yang meliputi;
a)      Bidan Industri
Teknologi merupakan cara yang harus dilakukan manusia dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya yang makin meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya, karena itu diperlukan alih teknologi (transfer of technology) dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang. Proses pengambilalihan teknologi ini memerlukan perhitungan yang matang agar teknologi yang baru dapat diterima dan digunakan oleh masyarakat waktu itu (teknologi yang adaptif), serta sifatnya melindungi teknologi yang telah ada (teknologi protektif). Secara positif industri memang memberikan kegunaan besar pada manusia. Bukan hanya mencukupi kebutuhan sehari-hari, melainkan pembangunan dan pembuatan industri dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang tidak mempunyai pekerjaan apapun, tetapi memiliki keahlian tertentu dalam bidangnya.
b)      Bidang Transportasi
Penemuan roda memegang peranan penting transportasi, karena dengan roda yang bentuknya bundar dapat diperlukan gerakan yang mudah, kemudian lebih dipermudah lagi dengan digunakannya binatang penarik, sehingga beban manusia makin ringan. Transportasi tersebut tidak berhenti berkembang sampai disitu saja. Setelah ditemukannya mesin yang dapat menggerakkan roda, maka transportasi bukan hanya lebih ringan, tetapi juga lebih cepat. Manusia semakin hari semain berfikir dan terus memunculkan berbagai inovasi-inovasi, setelah membuat alat transportasi didarat, manusia juga membuat transportasi laut dan udara yang sampai sekarang ini masih dIlmu Alamiah Dasarkai dan digunakan oleh manusia untuk keperluan yang penting.
c)      Bidang Komunikasi
Sebagai mahluk sosial manusia perlu berkomunikasi dengan sesamanya. Cara yang paling sederhana adalah dengan bertatap muka secara langsung, tetapi bila jaraknya jauh tentu diperlukan alat komunikasi. Kemajuan di bidang komunikasi ini dimulai dengan ditemukannya telegraph yang masih mempergunakan kawat oleh Samuel Morse (1832), kemudian disempurnakan oleh Guighelmo Marconi yang sudah tanpa kawat (1895). Pada tahun 1872, Alexander Abraham Bell menemukan pesawat telpon, mula-mula masih mempergunakan kawat, kemudian digantikan dengan gelombang radio. Untuk keperluan kantor, sekarang orang dapat mempergunakan telex (teleprinter exchange). Dengan ditemukannya satelit telekomunikasi kebutuhan manusia makin terpenuhi untuk mengadakan hubungan secara lebih cepat dan murah. Orang makin mudah mengadakan hubungan satu dengan yang lain (http://www.wikipedia.com/perkembangan komunikasi/). Salah satu akibat positif dengan majunya komunikasi adalah terjadi deurbanisasi, karena manusia walaupun tinggal juga di daerah pedesaan tidak lagi merasakan ketinggalan bila dibandingkan dengan yang tinggal di kota. Dapat pula dikatakan bahwa dengan majunya komunikasi dan teknologi lainnya, desa-desa menjadi kota dalam pengertian bukan geografis, tetapi teknis sosial, sehingga perbedaan antara desa dan kota makin lama makin kecil.
d)     Kesehatan
Kebutuhan akan kesehatan makin dirasakan oleh manusia, sehingga usaha untuk memerangi penyakit yang menjadi sumber malapetaka makin giat dilakukan. Dengan biologi sebagai ilmu dapat diketahui struktur tubuh, organ-organ, dan cara bekerjanya organ untuk menunjang kehidupan manusia. Dari biologi sebagai ilmu murni ini berkembang ilmu terapan yang secara praktis berguna bagi kesejahteraan manusia. Sementara itu manusia di bumi yang jumlahnya di kota-kota besar makin banyak, mulai timbul penyakit baru yang sifatnya psikhis, antara lain kekalutan mental yang dapat berkembang menjadi frustasi. Kehidupan kota yang keras, tidak mengenal toleransi, sedangkan manusia sendiri makin rakus dan individual, maka gangguan kesehatan yang dikenal dengan stress makin berkembang dalam masyarakat (Jasin Maskoeri, Ilmu Alamiah Dasar, hal 54). Maka dibangunlah rumah-rumah sakit yang digunakan untuk memerangi penyakit yang makin lama makin membuat manusia itu frusasi. Masyarakat yang frustasi akan pergi ke psikiater dan disanalah masyarakat dapat menemukan solusi yang tepat guna memnyembuhkan penyakit psikhisnya. Itulah guna atau dampak positif dalam bidang kesehatan.
3.      Kebutuhan Ekonomi, Sosial, dan Budaya, dengan keterangan dibawah ini:
a)      Ekonomi
Masalah kebutuhan primer, sekunder, tersier, maupun masalah sumber daya alam, sebenarnya secara tidak langsung sudah mengemukakan masalah ekonomi. Sebab sebagai Homo economicus, dalam segala tindakannya, manusia selalu memperhitungkan untung rugi atau dalam bahasa teknik disebut sebagai dampak positif dan negatif. Karena ekonomi adalah kebutuhan manusia, maka siapa yang dapat menguasai perekonomian, dialah yang memegang kekuasaan. Pada saat mata pencaharian utama manusia masih menyangkut soal tanah, kaum feodallah yang memegang kekuasaan. Sedangkan ketika industri memegang peran penting dalam ekonomi maka kaum kapitalislah yang memegang peranan utama dalam penyediaan segala kebutuhan manusia. Sekarang ini kaum kapitalis industrialis telah banyak mengembangkan usahanya hingga melampaui batas negaranya yang disebut dengan Multi National Corporation (MNC). Kadang-kadang perusahaan multinasional ini di negara-negara berkembang ikut serta menentukan politik pemerintahan. Perusahaan besar semacam itu tidak mungkin berkembang tanpa dukungan teknologi tinggi serta modal besar. Walaupun sebagian penduduk dunia masih hidup di bawah garis kemiskinan namun sebagian besar sudah dapat merasakan manfaat dipergunakannya teknologi modern, karena kebutuhan hidupnya dapat dengan mudah diperoleh dengan harga yang relatif lebih murah. Cara pembayaran pun dapat dilakukan dengan tunai atau kredit (http://www.wikipedia.com/ekonomidankehidupanmodern/). Contonya: masyarakat saat ini sedang tren dengan adanya penjualan online.
b)      Sosial
Dengan berkembangnya industri dan kegiatan ekonomi, maka memungkinkan orang hidup dalam lapangan pekerjaan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari angka-angka yang menunjukkan bahwa pekerja di pabrik atau perusahaan terus meningkat, sedangkan yang bekerja di sektor pertanian makin menurun. Nilai sosial juga berubah. Pada masa lalu orang merasa bahwa menjadi pegawai negeri dinilai lebih tinggi status sosialnya dibandingkan dengan para pedagang atau pengusaha. Sekarang menjadi pengusaha atau karyawan pabrik dianggap sebagai tenaga profesional yang mempunyai nilai status yang tinggi. Makin berkembangnya teknologi menyebabkan industri yang memproduksi barang secara massal juga makin meningkat. Tetapi sering kali juga dimanfaatkan untuk kepentingan yang negatif, seperti peniruan atau pemalsuan merek dagang, dan sebagainya. Kian majunya masyarakat yang dibarengi dengan peningkatan jumlah penduduk, menyebabkan manusia sering kehilangan nilai etisnya, dan mudah melakukan tindakan yang tercela dan melanggar hukum. (Lauer, Robert H, Perspektif tentang Perubahan Sosial, hal 98).
c)      Budaya
Budaya dapat berwujud tiga hal, yaitu ide atau gagasan, tingkah laku atau tindakan, dan benda atau barang yang dihasilkan oleh manusia (Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, hal 21). Jadi budaya mempunyai pengertian yang luas. Seperti telah diuraikan di atas teknologi dan industri mempunyai dampak positif dan negatif.  Karena itu hendaknya teknologi secara efektif mampu memerangi kemiskinan, keterbelakangan, dan menjamin kemajuan bagi bangsa manusia. Manusia juga perlu sadar bahwa orang menciptakan sesuatu bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk kesejahteraan. Contohnya: masyarakat diberi listrik dan digunakan untuk keperluan penerangan.


Dampak Negatif Dari Perkembangan ILMU ALAMIAH DASAR dan Teknologi Bagi Manusia
Dalam perkembangan  ilmu pengetahuan yang semakin maju pada sekarang ini, pasti akan dijumpai mengenai dampak positif yang ditimbulkanya. Dampak positif itu akan muncul jika dalam penggunaannya dengan cara yang baik, pasti akan sangat bermanfaat bagi manusia itu sendiri. Namun begitu juga sebaliknya jika perkembangan ILMU ALAMIAH DASAR dan teknologi tidak atau kurang tepat bagi kondisi masyarakatnya atau tidak dapat menambahkan lapangan pekerjaan, tetapi justru sebaliknya, dapat mempersempit lapangan pekerjaan. Hal ini karena efisiensi dan efektifitas dalam teknologi baru. hal itu terlihat dari semakin banyaknya pekerjaan-pekerjaan yang semula dikerjakan manusia sekarang dapat dikerjakan oleh tenaga-tenaga mesin. Akibat-akibat sistem teknologi pada kehidupan manusia makin meluas. Perkembangan teknologi yang pesat membuat masyarakat dapat menikmati segalanya dengan cepat dan mudah. Karena teknologi telah mempermudah kehidupan kita. Kita pun kehilangan kepekaan untuk mencoba-coba yang hal tersebut sangat penting dalam proses pembentukan jiwa. Pengaruh tersebut sangat besar sehingga tanpa sadar kita telah berkompromi dengannya. Kesadaran kita pun ikut menjadi kesadaran teknokratis. Ancaman paling besar yang dibawa teknologi dalam hal ini adalah matinya imajinasi manusia. Dengan matinya imajinasi manusia, maka manusia itu sendiri secara tidak langsung juga membunuh manusia lain dalam artian manusia yang kehilangan imajinasi tersebut akan menghilangkan pekerjaan bagi manusia yang memiliki keahlian yang produktif dalam bidangnya. Selain dampak negatif yang ditinjau dari pembangunan, lain hal nya dengan dampak negatif yang ditimbuklkan dengan adanya transportasi. Semakin tahun kendaraan yang berada di Bumi semakin berrtambah. Kendaraan memerlukan bahan bakar yang dapat digunakan untuk menjalankan transportasi tersebut agar dapat berfungsi sebagai mestinya.  Dengan meningkatnya jumlah kendaraan yang menggunakan bahaan bakar carbon akan menyebabkan terjadinya penignkatan kadar karbon monoksida (CO). Gas ini dapat berbahaya jika dihirup secara langsung oleh manusia. CO dapat menurunkan sel darah merah mengikat oksigen menyebabkan jaringan kekurangan oksigen yang disebut ‘hipoksia’, dan masih banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan dengan adanya perkembangan ILMU ALAMIAH DASAR dan teknologi. Adanya dampak negatif dikarenakan manusia menggunakan teknologi dan ILMU ALAMIAH DASAR tersebut tidak sesuai dengan apa yang harus dijalankan sesuai dengan aturan.
Pandangan Kebudayaan Sekarang Dalam Melihat Perkembangan ILMU ALAMIAH DASAR Dan Teknologi


Dalam konteks kehidupan masyarakat, paradigma dapat berarti kesatuan persepsi, dan praksis yang dimiliki bersama oleh suatu komunitas yang membentuk pandangan terhadap realitas dan menjadi dasar bagi warga komunitas bersangkutan untuk mengatur dirinya sendiri. Keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan kebudayaan material dalam masyarakat senantiasa mengalami perkembangan seiring dengan tingkat kemajuan arus informasi dan komunikasi yang pada akhirnya memberikan dampak positif dan negatif terhadap perubahan sosial budaya dan masyarakat. Teknologi adalah keseluruhan cara bertindak dan berbuat dalam hubungannya dengan proses pengumpulan bahan-bahan mentah dari lingkungannya dan memproses bahan-bahan tersebut menjadi peralatan dan perlengkapan hidup. Peralatan dan perlengkapan hidup ini dapat berupa peralatan kerja, peralatan untuk menyimpan makanan, pakaian, arsitektur perumahan, alat transportasi, dan benda-benda material lainnya. Adapun kebudayaan material adalah semua benda dan alat kerja yang dihasilkan oleh teknologi. Kebudayaan material dapat dikatakan sebagai wujud dari kebudayaan yang bersifat abstrak, yang memberi pengertian dan nilai kepada benda-benda material sebagai hasil usaha dan kerja manusia yang dilakukan secara sadar dan bertujuan. Teknologi merupakan unsur budaya yang sangat penting sebab perubahan teknologi akan memengaruhi unsur kebudayaan lain. Misalnya, perubahan teknologi berburu menjadi teknologi pertanian. Masyarakat tradisional yang masih menerapkan cara hidup berburu biasanya memiliki anggota yang relatif sedikit, hidup berpindah-pindah serta cenderung menggunakan teknologi yang sederhana dan mudah dibawa serta. Akan tetapi, dengan ditemukannya teknik pertanian, masyarakat tersebut akan tinggal secara menetap, jumlah penduduknya bertambah, dan mulai menggunakan peralatan dan teknologi yang beragam. Di sisi lain, di sela menunggu hasil pertanian panen, mereka mengembangkan kerajinan tangan dan kesenian.
Suatu masyarakat tidak mencapai perkembangannya dengan begitu saja. perkembangan, baik fisik maupun rohaniah, dalam suatu masyarakat selalu melalui tahap-tahap yang evolutif data berkesinambungan. Proses perkembangan ini dinamakan evolusi kebudayaan. Lewis Henry Morgan (dalam Harsojo, 1999) membagi tahapan perkembangan kebudayaan manusia sebagai berikut:
1.      Zaman liar bawah (lower savagery), yaitu perkembangan teknologi sejak manusia ada di permukaan bumi sampai mengenal bahasa.
2.      Zaman liar tengah (middle savagery), yang ditandai dengan adanya kemampuan untuk membuat api, busur, dan panah.
3.      Zaman liar atas (upper savagery), yaitu zaman ketika manusia mampu membuat teknologi busur dan panah sampai mampu membuat tembikar.
4.      Zaman barbar bawah (lower barbarian), dimulai ketika manusia mampu membuat teknologi tembikar sampai munculnya budidaya tumbuhan dan pemeliharaan ternak.
5.      Zaman barbar tengah (middle barbarian), dimulai ketika manusia mengenal budidaya pertanian dan peternakan sampai mampu bertani secara menetap serta mulai mengenal sistem irigasi.
6.      Zaman barbar atas (upper barbarian), dimulai dari adanya teknologi irigasi hingga munculnya teknologi pengolahan besi dan budaya tulisan.
7.      Zaman peradaban (civilization), merupakan zaman yang ditandai dengan adanya penggunaan bahasa, tulisan, elektronk percetakan, dan industri seperti sekarang.










































BAB III
PENUTUP


  1. Kesimpulan
Demikian makalah mengenai Dampak Perkembangan ILMU ALAMIAH DASAR dan Teknologi bagi Kehidupan Manusia, maka penulis menyimpulkan sebagai berikut:
1.      ILMU ALAMIAH DASAR dan Teknologi yang berkembang begitu pesatnya saat ini menimbulkan manfaat yang sangat besar bagi manusia dalam melakukan aktifitasnya sehari-hari.
2.      Selain manfaat yang yang diperoleh oleh manusia sendiri karena adanya perkembangan dalam bidang ILMU ALAMIAH DASAR dan teknologi, manusia juga mendapatkan dampak yang negatif dari perkembangan tersebut.
3.      Perkembangan ILMU ALAMIAH DASAR dan Teknologi terus-menerus mengalami kemajuan yang dinamis mengikuti jaman.
4.      Perkembangan ILMU ALAMIAH DASAR dan Teknologi bukan hanya berdampak terhadap unsur yang berhubungan dengan alam, melainkan juga dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, dan lain sebagainya.
5.      ILMU ALAMIAH DASAR dan Teknologi itu akan sangat berguna jika dimanfaatkan pada tempatnnya, dan jika disalahgunakan akan menimbulkan suatu hal yang berbahaya bagi manusia itu sendiri.












DAFTAR PUSTAKA


Aly Abdullah dan Rahman Eny. (1992). Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: Bumi
Aksara.
Jasin Maskoeri. (1992). Ilmu Alamiah Dasar. Cetakan ke-11, Jakarta: Rajawali
Press.
Nizamuddin H. (1994). Ilmu Alamiah Dasar. Cetakan Ke 2, Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Zen, MT. 1981. Sains, Teknologi, dan Hari Depan Manusia. PT Gramedia:
Jakarta..
Lauer, Robert H. (1993). Perspektif tentang Perubahan Sosial. Jakarta: Rineka
Cipta.
Koentjaraningrat. (1993). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru
Kamus Bahasa Indonesia. 2001.




















Minggu, 08 Januari 2012

tas harga murah

Kotaku…..Kotamu…..Kota Kita


Dua generasi yang berbeda masa dan tempat bertemu pada suatu kota dan terlahir di kota yang sama, mereka Upik dan juga orang yang tidak seberapa ia kenal tengah duduk dengan manis di tengah awan mimpi. Namannya Sigar bukan itu mungkin hanya julukannya karena badannya yang tak utuh lagi. Dia tinggal setengah nyawa, setengah badan dan setengah dari rasa ketidak puasannya akan apa yang tidak ia inginkan, tidak ia harapkan dan juga tidak ia impikan. Mungkin ini akan Nampak agak aneh, ketika ia harus bertatap muka dengan dunia yang namak indah hanya bagi beberapa orang.
Kemudian Sigar menanatap Upik yang tengah tersenyum manja ingin menapaki dunia yang indah. Upik tersipu hingga mukanya merah seumpama apel merah. Ah… alangkah manisnya dia. Mungkin berjuta anak negeri ini juga seperti itu. polos, lugu dan juga mahluk yang akan tertipu ketika dia beranjak dewasa dan merajut mimpi bersama dengan masa depan. Ah… alangkah malangnya.
Aku ingin bercerita tentang sebuah kota, kata Sigar kepada Upik. Kota di tengah kota yang hilang dan juga menjadi kota yang sungguh aku rindukan. Sebuah kota yang mungkin akan menjadi angan bagi seorang seperti aku. Dulu kotaku mungkin adalah kota yang aku lupakan. Aku tak sempat berkenalan dengannya. sebuah kota yang mungkin telah secara tak sengaja aku lupakan. Sebuah kota yang dulunya dengan mudah engkau temukan arti hidup dan juga kasih. kota yang ketika engkau berlayar menuju laut kau bisa temukan protein ikan, kota yang ketika kau lari ke atas bukit akan kau semai ladang milik mamak dan juga kota yang dimana kamu bisa memikul garam dari ladangnya dengan mudah. Bukan hanya itu saja…di kota ini kau akan temukan bukit-bukit kapur yang tinggi, sungai yang jernih dan juga masyarakat yang beriman.
Oh… gresik…. Alangkah berubah kau kini. Katanya dalam hati…. Hanya Tuhan, mahluk tak berwujud yang tahu apa yang ia katakan.
“ indah sekali kotamu?”
Sigar hanya mengangguk pelan dengan sedikit menitikan air mata. Ah…. Malangnya nasib kotaku. Yang diperkosa oleh para ketua yang dulunya merupakan tangan panjang rakyat dan juga agama. Ah…. Para mahluk itu….. apa kabarmu ??? mahluk yang berseru antara dosa dan juga pahala, yang selalu bertandang ke Masjid pertama kali dan mungkin juga mahluk yang menikahkan anaknya yang baru saja berusia 16 tahun dengan pria yang berusia 31 tahun. Mahluk yang berjubah dan bermandikan kekuasaan politik. Ah… dunia kemana kah orang yang benar-benar arif dan bijaksana ada.
Disana banyak sekali surau yang mengumandangkan panggilan adzan, tak peduli seberapapun kerasnya namun semakin tahun semakin banyak yang mangkir dari panggilan itu. mereka semua lebih banyak berjejar diantara barisan café atau warung kopi tengah asyik menengguk kopi dengan memandangi para peramu kopi yang tengah asyik memamerkan pinggulnya. Bukan rumah ataupun mushalah yang akan mereka tuju melainkan kesenangan sesaat, bukan sebuah tempat yang membungkus hati dengan cinta dan juga kasih. Ah…. Gresikku….. malangnya kamu. Tertinggal dan ditinggalkan mereka yang menghidupimu.
Berapa banyak tanah yang akan kau makan wahai pabrik. Cukupkanlah jenkal tanah milik mamak yang masih menghijau, sedikit sisahkan tanah untuk bapak menebar benih udang dan bandeng karena sudah terlanjur ku kenalkan pada dunia kalau gresikku terkenal dengan bandeng.
Cukuplah cukup wahai cukong pabrik, kau isap apa yang Gresik punya, kau keluarkan kabut hingga kami tak mampu lagi untuk melihat indahnya mentari yang menyapa kami di pagi hari dan tenggelam di sore hari, kami juga tak mampu menikmati kabut segar di pagi hari yang ada hanyalah kabut aminia’ yang bertebaran di pagi dan sore hari. bukan hanya itu saja aku tak mampu mengenali lagi lautku yang kaya. Sudah aku cari selama berbulan-bulan namun yang aku temukan adalah lautan yang jika minyak limbah itu lewat akan kau jumpai ikan dengan sendirinya mengapung. Ikan itu yang mungkin saja tersaji. Kotaku …. Kotaku mungkin kota yang di huni banyak yang berilmu, beriman, yang kaya namun kotaku adalah kota sampah yang mungkin banyak ditemui racun disana sini.
“ kotaku kau kemana yang dulu………. Bagaimana dengan kotamu kawan?” Tanya Sigar kepada Upik.
“aku ini orang ndeso mana aku tahu kota yang indah sekalipun aku melihatnya. Yang aku tahu adalah sebuah kota yang membuat aku kenyang.” Katanya sambil memamerkan perutnya yang buncit.
Lalu Upik menatap Sigar dan kembali berbicara, kau tau tidak. Kota yang aku miliki adalah sebuah kota yang memiliki berjuta lapangan usaha. Ya…banyak uang namun mungkin sama dengan kotamu yang mungkin kurang hijau. Tapi kota yang mungkin akan memberimu berpuluh-puluh lembaran uang ratusan, dalam dua minggu tanganmu akan mengenggam sejuta. Bayangkan….nominal itu tak akan kau dapati dengan membajak sawah dan menunggu panen tiba.
Dengan hanya berdiri dan mematung mengerjakan hal yang sama dan di akhir bulan, pekan atau mungkin harian kami bisa menikmati rupiahnya. Tak perlu pagi buta kami berangkat dengan menenteng cangkul dan nanakan nasi emak kami bahkan kini lebih mulia dan juga terhormat. Bekerja di pabrik adalah sesuatu yang mungkin paling terhormat dikampungku. Kami mendapatkan uang yang banyak dan tak terbayangkan. Rupiah…..rupiah…. rupiah untuk membangun rumah, menikahhi istriku dan juga untuk meminum toak
Upik lalu memajukan tubuhnya dan memamerkan baju yang ia kenakan, jam ber merk dan juga cincin emas yang bertahtakan batu akik yang ia peroleh dengan cara halal yakni menjadi buruh pabrik.
Sigar hanya tersenyum, ah….. dasar orang kaya baru. baru dibodohi, bodoh dan juga pada akhirnya terkalahkan dengan otot yang lebih kuat mereka kaum upik adalah kaum pekerja, kelas yang mungkin akan tergantikan dengan kelas pekerja yang lebih kuat selalu seperti itu, ibarat mesin selalu ada pembaruan. Masa ke masa akan tergantikan dan selamat datang kaum pekerja capital.
Sigar yang terdiam lalu menatap Upik yang tengah asyik memandangi jam mahalnya. “ kau tahu kata orang ini import.”
“ya….. apakah kotamu ad ataman yang menyediakan ruang untuk singgah?”
Upik hanya tersenyum bangga, di desaku banyak tapi di kotaku sangat jarang, namun tempat hiburan sekelas café lebih banyak. Kau bisa menikmati secangkir kopi ditambah dengan badan molek yang siap menggoyang badan saat kita menatapnya itu sudah taman surga bagiku. Tak penting tamanku hijau atau tidak, yang terpenting tamanku mampu menghilangkan penatku.
“ bagaimana udaranya dan airnya? Apakah bagus dan bersih, jika itu benar mungkin aku akan pindah?”
“tidak…. Jika aku punya banyak uang aku akan beli rumah mewah, motor dan mobil. Tak penting masalah itu, yang penting adalah bagaimana kita kaya dan bisa melakukan apapun.”
“udara kotor?” Tanya Sigar.
“ aku punya uang untuk beli masker dan bahkan jika aku sakit uangku cukup membeli bertabung-tabung oksigen.”
“lalu air…..”
“ada iar kemasan.” Jawab Upik dengan singkat.
“tak semua beruang di kotamu, pekerja… ada anak-anak yang masa depanya panjang, ada orang tua yang butuh kesehatan, ada ibu hamil yang butuh nutrisi dan uadara yang sehat, ada mamak yang menanam sayuran dengan susah payah dan dengan jahatnya polusi itu menempel di daun yang akan ia sajikan untuk kamu dan adik-adikmu.”
“itulah gunanya uang….kau tak perlu menderita jika kau punya uang.”
“kau akan merasa apa yang aku rasakan suatu hari kelak. Kerinduan akan hijaunya kota.”
Sigar….. menatap Upik dengan senyum yang terulas di matanya. Uang….harta….. dan apapun yang membuat dirinya kaya itulah yang penting. Tak masalah ia sakit dan menderita atau apapun, budaya capital memanglah seperti ini. hijau atau biru kota tak akan pernah berkesan apapun dimatanya.
“lalu dimana kotamu?”
“Gresik…..” kata UPik, “lalu dimana kotamu, pak Tua?”
Sigar hanya tersenyum mendengar kota Gresik disebut. Kota yang sama dengan dua pandangan yang berbeda.
“Gresik, kotaku….kotamu…..kota kita….. berubah.”
Upik tercengang melihatnya, ia membayangkan dan mulai kembali memintal cerita Sigar yang lalu. takut….. kaget dan tak percaya bercampur jadi satu. Ternyata Gresik.


Gresik, 04 Januari 2011

Untuk saudaraku di Gresik, selamatkan kota kta dari polusi.

Malu dan Kebanggaan.


“Apakah engkau bangga pada negerimu? Ataukan kamu malu pada negeriu? ”
Mungkin dirinya adalah orang yang keseribu yang bertanya padaku tentang arti kebanggaan dan rasa malu.
Diamanapun di tempat ini….. di Negara kecil ini mereka bertanya demikian padaku. setengah ingin tahu dan setengah lagi dengan tampang meledek. Bukan hanya dosen, kawan, sahabat atau mereka yang numpang lewat.
Mungkin dan mungkin dia patut bangga pada negerinya. Dengan kebanggan yang mereka terjemahkan sendiri. Bagiku kata kebanggaan relative. Boleh jadi aku hanya terlalu sensitive.
Bagi mereka yang aku kenal disini, hiasan kota yang mewah di jalanan yang aku pandangi kali ini, menyakini bahwa mereka bangga. Bagi mereka kota yang aku jejaki adalah kota penuh semangat kebanggaan. Entah bangga pada bagian yang mana dan karena apa. Tapi aku iri.
Hari ini di alun-alun ini dan hari yang lalu atau mungkin hari yang akan datang aku menatap mereka. mereka ada disini, tinggal dan menjalani hidup. Mereka datang dari negeriku ke negeri ini. jauh dan juga biru. Walau disini tercukupi namun aku tahu, sebenarnya di palung hati yang terdalam sebenarnya mereka rindu akan ibu pertiwi. Tanah air bagi mereka adalah masa lalu yang terukir kuat dan mengakar di hati mereka. tapi kami dan juga mereka tak terjanjikan atas keadilan dan juga hak kami. kami kecewa atas itu….
Diantara mereka mungkin sama seperti aku yang merindukan lingkaran kuning menghangatkan sepanjang tahun tanah ibu kita atau mungkin mereka merindukan kesemerawutan kota-kta di bumi pertiwi dengan debu dan polusinya yang lengkap dengan bisingnya klakson dan makian sopir yang geram di rimbah jalanan tanah air. Aku bangga pada mereka dan aku paling geram ketika kami berada di dalam kendaraan umum yang berjejal dengan panasnya selubung bumi dan terdiam hanya karena jalanan di tutup beberapa jam karena ada pejabat yang numpang lewat. Semua penumpang mikrolet melongok ingin tahu siapa yang lewat hanya sekadar ingin tahu siapa yang membawa kabur hak-hak kami.
Malukah aku pada bangsaku? Mungkin aku malu. Mana kala ku lihat beribu-ribu anak jalanan yang harusnya dipelihara Negara terlantar dan tergadaikan dengan keping-keping rupiah. Itu tak seberapa, disana ditempat itu terlihat atau tidak terlihat nyawa mereka tergadaikan, tiada kasih sayang dan mereka yang berdasi terbutakan. Kebodohan yang berdasi membuat aku malu karena bangsaku bobrok akan moral dan nilai. Mungkin adalah kita dan juga mereka berperan dalam hal itu. tapi mereka kaum berdasi, gendut yang kaya kecuali di hadapan Tuhan. Yang miskin manakala….. tanpa merampok dan bermuka dua. Yang berdusta manakala berbicara dengan rakyat yang bagi mereka bodoh dan layak untuk dibodohi.
Hormatkah kami …. Atau mungkin kami takut?
Aku tersenyum pada tulip yang baru saja mekar pagi ini. merah… dan juga kuning menghiasa taman laun-alun kota. Apakah disini juga ada ketakutan akan diperkarakan karena kami tak takut atau hormat pada mereka? atau mungkin kami harus pura-pura takut hanya karena etos susila pada lingkungan social yang kecil harus hormat pada yang besar… bukan bukan… bukan yang benar pada sosialita kita adalah miskin harus hormat pada yang kaya atau mungkin kaya dan yang jelatah patuh pada yang berkuasa. Atau lebih tepatnya itu hanya omong kosong. Lebih tepatnya kami takut … takut akan sangsi hokum. Hukum alam…. Hukum Negara…. Hukumm Tuhan. Dan anehnya para penguasa justru bangga saat rakyat takut pada mereka karena alasan hukum. Bukan malah….. takut karena kebijaksanaan mereka.
Lalu apa yang aku bisa tatap dari negeriku jika aku melihat mereka. sedang kami para penerus generasi yang disini dengan uang beasiswa yang pas-pasan harus hidup dengan tuntutan dan ajuran dari sang sang leluhur yang bijak untuk berbakti pada nusa dan bangsa. Lalu mereka…. bedebah-bedebah berdasi yang entah siapa itu. makan…tidur….makan… tidur terus dengan uang sebaai bantal dan kasur. Tidur dari kenyataan yang merajalalela. Makan dari yang bukan hak nya dan jalan-jalan dari apa yang lebih dijadikan alasan. Studi banding sana sini padahal merancang undang-undang saja lama….lama banget.
Apa yang harus aku banggakan ? Tiada dan juga kosong. Aku bahkan … ingat kini tentang kebohongan yang mutlak. Guruku mengajarkan aku tentang kebohongan bagiku. Mereka mengajarkan kenyataan yang setengah-setengah agar kami ya….. setidaknya pernah bangga pada negeri kita. Saat aku kecil guru-guruku pernah bilang kalau negaraku adalah Negara yang kaya. Dan kini aku tahu kalau kita kaya penduduk, kaya kebohongan, kaya cukong-cukong pengadilan, kaya korupsi. Dosen Indonesiaku bilang kita berpotensi kaya namun miskin.
Ini baru bener……
Dulu aku tersenyum mana kala Ismed temanku yang pernah berbicara padaku. tentang arti kebanggaan. Aku tahu kini, aku mungkin ibarat kucing yang mengais kehidupan dari reruntuhan kebanggaan tentang dulu… dulu… dan dulu. Mana kala mereka para pejuang berjuang untuk sebuah kebasan. Jika mereka tahu akhir bangsa kami akan terjajah oleh kami mungkinkah mereka berjuang? Yang mereka tahu hanya satu, mereka akan berjuang agar yang tertindas bisa bernafas. Aku bangga akan itu.
Tapi ketika ku ceritakan kebanggaanku pada mereka. jenisku dan seusiaku yang seanak rusa. Aku cukup malu ketika aku terlahir bersama mereka. mereka anak-anak rusa yang mengauli anak-anak macan. Mereka tak sadar kalau anak-anak macan akan menerkam mereka kapan saja. Macan-macan itu menjelma menjadi sesuatu yang menyenangkan di rimba perkotaan. Sadarkah mereka tak sadar kalau rimba perkotaan akan membunuh mereka. aku dan juga mereka mungkinkah telah tercabut dari akar-akar tradisi, di saat mereka menafsirkan nilai-nilai lama secara rasional. Sementara kebebasan dan kebudayaan ruang dan masa membuat kita dan juga mereka terjebak dalam identitas yang kosong, hambar dan juga tidak jelas akan siapa kami.
Apa yang harus ku banggakan? Aku justru malu.
Kami mencari kami dalam kegelapan. Kami ingin berlari dan terus bertanya akan kebangaan pada tanah air kita. Dan kami berlari aku sadar. Diantara puing-puing yang rusak itu. ada kebanggaan yang harusnya kami lihat. Mereka tak tampak namun nyata, mereka ada disekeliling kita yang berjiwa besar namun tak butuh dihormati dan dihagai, ada air, udara, hutan dan apapun itu yang pertiwi berikan untuk kami. ada nama-nama pejuang yang mati untuk kami. ada selusin makna kebaikan dijalanan yang tak terlihat namun nyata. Ada mereka yang berjuang tanpa kepentingan golongan, berjalan sendiri hanya untuk memperjuangkan arti kesejahteraan.
Aku bangga dengan matahari ekoador…. Yang bersinar sepanjang kami hidup di tanah pertiwi. Sepanjang kami mau belajar dan berjuang untuk sebuah arti kebanggaan.
Tapi aku tetap bingung jika aku bercermin pada aku yang lain yang lupa pada siapa kita. Dan ketika aku Tanya pada mereka apakah mereka malu pada negeri ini? mereka tak menjawab karena bingung. Aku tahu jawabannya mungkin iya dan tidak. Dan bagaimana dengan ada?

Den Haag, 1 November 2011

Si hijau yang bunuh diri

Dia datang dan selalu datang. menyanyat kulitku dengan lembut dan melindasi tubuhku dengan sentuhan yang halus. aku terdiam menikmatinya dengan kesesatanku. Tubuhku yang meliuk dan membentuk gadis dengan jelas membuat mata yang di udara menatapku. Aku indah dengan balutan hijau bajuku. Aku cantik dan mereka yang melihatku histeris. Histeris dengan keadaanku kini.

Dia menyentuhku dengan bahasa yang lain yang tak aku dengar sebelumnya. Ia mencintaiku dengan kata-kata manisnya aku tahu. sentuhannya begitu elegan dan menawan. Dia maskulin dengan balutan banyak hal yang menawan hati. Ia tak begitu tertarik dengan kulitku yang cokelat.

Aku terdiam menunggu tangan elok bidadari mendadani aku lagi. Menusukan bros dari mutiara dan emas di sela-sela dadaku. Dadaku yang jenjang mungkin akan membuat sahwatmu naik. Tapi ia urung melakukannya.

“mamak dia datang.” teriak mereka

Aku terdiam, membiarkan tubuhkuh melenggak-lenggok, setiap pagi aku sudah menggoda mereka. membiarkan tubuhku yang deras dengan keindahan ragawiku untuk mereka sentuh. Aku menyukai sentuhan itu. sentuhan kasih sayang dan agak centil. Awalnya ia memcintaiku dengan tangan kasihnya. Membelai rambutku yang tak berujung dengan manisnya. Aku bangga ketika berkali-kali ia mengecup manisnya tubuhku. Memandikan ragaku setelah bermalam dengannya.

Kami lakukan itu bersama-sama dan senyum tersungging di wajahnya dan wajahku bersemu merah. Mereka memasuki dalam ragawiku mencuri sesuatu dan berterima kasih saat mendapatkan cinta kasihku dan pemberianku.

Suatu kali ada mahluk lain yang mencuri mereka si pencuri kesukaanku. si liliput-liliput itu meninggalkanku tanpa sedikit menyisahkan cinta padaku. mereka bukan lagi si pencuri kecil yang ku kenal. Mereka lain.

Keheningan meliputi ragaku dan bunyi berisik membangunkan aku dari kesunyianku. Sayap bidadari langit yang dulunya menyukaiku kini telah berubah menghitam. Terjadi pemerkosaan yang hebat disana. Cahaya putih yang berbenar kabut itu menghilang. Benar-benar menyelimuti kami,

“ahhhh…. Jagan lakukan itu…”

Lalu terdengar teriakan laki-laki, mengelengar dan juga meniadakan keheningan. Memuncakkan andrenalinku. Membuat rintian air mata si hijau.

“tidak…”

“tidak.”

“tidak.”

Rintih si bidadari. Ia tak lagi bergema suaranya. Yang ada hanya sayap-sayap kelabu merah yang bertaburan disisi kami. aku terdiam ketakutan dan juga merinding. Si bidadari langit yang indah, tersakiti. Apa yang hendak kami alami?sayap-sayap yang tak menyawa itu tercabuti satu persatu dan bercecean di sekitar kami. darahnya yang telah mengering semakin ingin kami hilangkan dari ingatan kami karena ketakutan. Sayap-sayap itu tak lagi melindungiku dan juga tetanggaku si hijau. Si hijau semakin panic. Ia membiarkan dirinya terkena kangker. Dibiarkannya liliput itu memilah rambutnya dan mengambil ubannya yang tua.

Ia yakin liliput munggil akan merawatnya karena ia telah memberikan begitu banyak. Memberikan tepat dan nafkah serta melindungi mereka.

Si bidadari langit menatap kami, matanya yang biru tidak itu kelabu dan rintihan halusnya terus terdengar. Ada kecambuk dalam batinnya. Menyala-nyala dan api itu melilit-lilit indah. Tapi kami hanya terdiam menyaksikannya.

“teruskanlah bermanjaan.”

Lehernya yang seputih angsa itu terkerat dengan linangan darah menghitam penuh pekat. Tubuhnya yang indah kini berbalut ketelanjangan dan tak ada satupun yang kini mampu melindunginya, kami dan liliput munggil tecengang mendapati fenomena itu.

“aku sudah tak lagi mampu melindungimu.”

“kenapa?” tanyaku.

“karena aku sudah tak punya senjata lagi.”

Dia lalu menunjukan kebeningan tubuhnya yang membuat kami tertusuk dalam. Tersakiti dan ku lihat aliran darahnya yang menghiasi hampir seluru jiwanya. Ia merasa jijik dengan ketelanjangan itu. ia kini hanya sebuah dzat yang bernyawa namun tak mampu memilih. Dia tak pantas lagi kami sebut bidadari bahkan mungkin tak pantas lagi jika aku panggil ia mantan bidadari yang elok dengan gaunnya yang putih. Sayapnya yang menjuntai atau lehernya yang seputih angsa itu bahkan tak berbekas lagi.

Laki-laki pemerkosa itu melirik kami. matanya yang tajam memandang kami berdua. Si hijau dan aku ketakutan karena kami terpasung tanpa daya. Tubuh kami terdiam, gemetar dan dugaan yang buruk terjadi. Si liliput meninggalkannya. Ia malah mengambil begitu banyak dari biasanya. Mengerongoti payudara si hiau dan meninggalkan tubuhnya yang rapuh.

Si liliput tak berdaya melawan cintanya. Si liliput hanya diam dan diam. Memandangi dan bahkan ada sebagian dari mereka yang berkhianat. Mereka tertawa bersama-sama dengan penjahat itu. si hijau menangis merasa terkhianati. Ia memberi banyak dengan harapan akan tetap mendapatkan cinta kasih. tapi itu hanya sebuah mimpi. laki-laki pemerkosa itu kemudain menatap lekat-lekat pada lilipun lainnya.

“kau tahu… kau akan suka jika sudah terbiasa.”

Si liliput tua yang tak berpakaian lengkap menantang mereka. aku tahu ia cinta dengan kami bahkan melebihi cintanya pada dirinya sendiri. Ia melantangkan suara,

“jagan kau rebut kebahagiaan anak cucu kami.”

“bahagia?”

“anak cucumu pun akan memperkosanya. Ini hanya soal mobilitas antara aku dan juga dia.”

Tangan telunjuknya yang panjang langsung menunjuk ke arah liliput munggil yang ada digendongan ibunya. Bayi liliput itu terseyum dan mencium telunjuk laki-laki pemerkosa itu. seolah ada madu di telunjuk itu.

Si bidadari langit belum mengusir siang, belum meniadakan malam dan membiarkan serat darah yang memerah itu memandang kami. si hijau terdiam. Ia menitikan air mata sementara itu laki-laki pemerkosa mulai membelai rambutnya. Ia menikmati untaian rambut lebatnya yang penuh misteri. Mengusir kutu-kutu itu.

Hidung laki-laki itu menciumnya. Menarik dengan keras rambutnya dan membiarkan si hijau merintih. Dia semakin terlihat perkasa saat si hijau merintih kesakitan. Ia semakin menjadi-jadi saat si hijau melolong kesakitan. Laki-laki menyentuh alis tebal milik si hijau. Alisnya yang tebal mirip alisku dan bibirnya yang merah mirip milikku. Kata laki-laki itu dalam hati. Si hijaupun hanya diam dan tak mampu bicara apapun.

Aku marah dalam hatiku ingin rasanya aku melawan namun apa daya aku tak mampu melakukan apapun. Dulunya si hijau selalu melarangku untuk marah. Tapi kini aku bahkan kehilangan nyaliku. Si bidadari langit hanya memandangnya dengan membuka mata. Ia tahan dengan kondisi itu dan matanya tak tertutup sedikitpun. Dia sudah biasa memandangi hal demikan. Tiada tangisan atau kesedihan atau mungkin solidaritas.

“jangan…”

“jangan…”

“jangan… yang itu… itu untuk kekasihku.” Kata si Hijau.

Aku semakin merinding. Ingin rasanya aku tendang dia dengan kakiku yang jenjang. Namun si langit hanya diam dan memandangku. Kini aku menyangsikan apakah ia seorang bidadari yang baik hati.

“kenapa kau diam?”

“aku bisa apa. Dan kau tak tahu lukaku.”

Aku terdiam mendengarnya. Aku terus memperhatikan tangan laki-laki itu yang menyentuh lehernya dan tangan panjang itu aku yakini akan menyentuh dada si hijau. Si hijau semakin bekeringat dan air matanya jatuh. Aku menerima buliran air mata itu. aku tampung luka itu lalu kemudian aku menjadi saksi. Saksi atak kehilangan keperawanan temanku itu.

Pertama-tama ia lepas semua pakaian si hijau. Aku melihat kulit si hijau untuk pertama kalinya. si hijau bugil dan aku hanya terdiam. Aku tak mampu membungkus tubuhnya itu. si hijau menatapku dan dia sudah tak cantik lagi. Matanya sangat ranum dan tubuhnya sangat kecil. Ia gemetar karena ia kini bukan apa-apa. Ia yang anggun, mempesona kini hanya berupa kulit dengan tulang belulang. Untaian manik-manik dan bajunya berserakan di sekitar tubuhnya. Ia tak berdaya dan hanya terdiam.

“kau tahu, aku kan berikan kau baju yang lebih indah.”

‘ulung tak mau?” kata si hijau.

“tapi kau bisa apa sayangku…. Tidak ada. akulah Tuhan dari kalian dan akulah yang memiliki kuasa atas segala tindakan.”

Dia mencengkram kuat bahu si hijau dan menelanjanginya. Ia telanjang kini… bahkan rambutnyapun menghilang.

“cengkeram yang kuat.” Kata seseorang yang hitam.

“tentu.” Katanya.

Laki-laki itu mencengkeram kuat tubuh si hutan. Dia lalu meninggalkannya. Meninggalkan si hijau seolah si hijau tak berarti lagi. Tidak sedikitpun si hijau mendapatkan bayaran. Si hijau terdiam dan hanya mampu menitikan air mata. Matanya yang berbinar kini terbakar emosi. Ia ingin membunuh dirinya yang sekarat. Ia bakar tubuhnya dan membiarkan abu mayatnya bertebaran disekitar kami. ia bumbungkan anyirnnya darah menghitam itu pada si bidadari dan ia pamerkan abu-abu tubuhnya yang lembut padaku.

“ibu… apakah yang terjadi?’’ Tanya si liliput kecil.

Liliput tua tahu apa yang terjadi. si hijau putus asah dan bunuh diri. Dia malu dengan apa yang terjadi padanya sementara laki-laki itu dan laki-laki hitam pergi entah kemana. Liliput tua itu terdiam. Ia ingin mengukur kebijaksanaan pemikirannya dan memandang liliput pengkhianatan dengan kehinaan yang dalam.

“si hijau bunuh diri.” Kata mamaknya.

“kenapa kita tak menolongnya?”

“karena kita tak mampu melakukan apapun.” Kata mamaknya sambil merangkul erat anaknya.

Si bidadari benar-benar sedih. Ia limpahkan kilatan gemerlap cahaya dukanya, ia kumpulkan semua daya uapaya yang ada hanya untuk menangis karena hanya itu yang mampu ia lakukan. Ia teriyaki seisi dunia tentang keadaan yang ada. ia hembuskan kuat-kuat nafasnya karena kemarahan dan juga kebisuan semuanya. lewat butiran air mata yang tiada henti terlukis dengan jelas emosi itu. Aku yang sempat marah padanya kini tahu luka itu. luka seorang korban dan saksi dari berjuta-juta pemerkosaan atas si hijau. Ia biarkan lukanya membasahi tubuh si hijau berharap kalau si hijau akan bangun kembali. Mengecup setiap kejeringan dan kebugilan si hijau. Berharap sebuah nyawa helaian benang akan ada.

Aku yang hanya bisa menampung dukaku dan duka si bidadari hanya marah lewat caraku. Ku tumpahkan semua lukaku. Ku genangi apa yang ingin kulakukan. Aku marah pada semuanya dan aku bunuh diriku. Ku tumpahkan nyawaku atas kekecewaan pada banyak hal. Aku tak benyawa.

Hitam kecolelatan.

Hitam kecokelatan mengenang semua yang ada. kami mati dalam penyesala laki-laki itu. siapa yang tahu nasib Barito lagi. Mungkin esok atau lusa aku akan mengalami hal yang sama. kali ini hanya sebatas ini yang mampu aku lakukan. Aku marah pada semuanya dan aku marah pada ketidak berdayaanku menolong tetanggaku si hijau.

Decak Barito hanya kesedihan yang terdengar. Meski aku melihat liliput itu merayapi tubuh si hijaum dan menjahit baju dengan bahan yang lain. Bahan yang sekiranya mampu menghasilkan namun aku yakin tetap si hijau tak kembali. Liliput hanya ingin sesuatu yang menguntungkan dari bangkai si hijau. Seperti dahulu, seperti mereka yang mencuri dan si hijau tetap memberi. Lilipun tak pernah beubah, ia selalu menjadi parasit dan tak benar-benar mencintai si hijau. Hanya sedikit dari liliput yang benar-benar mencintainya dan aku bertanya,

“mana mereka?”

“mana dia?”

“dimana ia?

“dimana mereka?”

“dimana?”

Dan hanya ada suara kecil serta acungan tangan munggil yang bahkan tak terlihat. Mereka melintasi tubuhku dan aku terdiam. Kadang kala aku bedecak marah pada yang lain. Kadang pula aku terdiam merasa mengangkat topi pada liliput yang berhati emas namun bahkan tak terlihat di mataku. Begitu kecil…. Hingga kadang saat aku lupa aku berkata,

“mana mereka?”


Muara Teweh, 16 november 2009

Cintaku Dulu dan Sekarang


Hari ini, mentari baru terbit dan sinarnya yang kuning seolah memberikan sesuatu yang baru, segala sesuatu hidup, segala sesuatu berjiwa, segala sesuatu Nampak bericara kepadaku tentang hasratku, sesuatu seolah mengundangku untuk bercerita tentang hariku yang dahulu lagi…….. padahal selalu cerita yang sama.
Itu yang aku rasakan setiap paginya, setiap aku membuka mataku aku rasakan sesuatu yang baru mengalir di nadiku. Sesuatu yang lama namun terasa baru. tentang rasa dan juga perasaan yang menjadi pengelana waktu yang tak pernah usai dan berakhir.
Aku tersenyum kembali untuk kesekian kalinya. memandang betapa konyolnya diriku dimasa yang lalu.
Dulu….
Lebih dari segala yang ada dalam hidupku, ku harap aku tak pernah sendirian, tanpa ada yang mencintaiku. Memikirkannya sudah membuatku sedih dan juga murung. Banyak yang aku takutkan di dunia ini namun yang paling aku takutkan adalah kegagalan cinta, aku takut sakit, takut mati, takut dimarahi ibuku, kemiskinan , kegagalan dan banyak hal lainnya. tapi kita akan Nampak lebih buruk melewati itu semua sendirian. Sebaliknya jika kita mengarunginya bersama seseorang yang kita cintai. Dan itulah yang aku mau dan impikan.
Itu dulu……
Dulu,
Dulu aku cinta. ya… semua terasa indah. Aku mencintai seseorang. Cinta yang ku tahu kala itu adalah semua hal tentang keindahan. Tiada ruang untuk kesedihan. Tiada tangis untuk duka. Hanya ada rasa bahagia yang mengisi seluruh kalbu. Cinta itu mengubah segalanya. mengubah gelap dalam hatiku menjadi terang, mendung menjadi cerah dan pahit menjadi manis.
Aku menatapnya pertama kali saat aku menatap sekolah baruku untuk pertama kalinya. ada bahagia dimatanya dan aku tahu kalau untuk pertama kalinya aku melihat cinta yang ku dambah dimata bening itu. seorang pria yang ku yakini jauh lebih tampan dari apa yang mereka sebut malaekat. Pria berjubah yang memiliki senyuman main dan juga indah. Aku suka itu, aku suka dia itu adalah kalimat yang aku katakan pada diriku sendiri ketika aku mengingatnya.
Aku bangga karena Tuhan menyisipkan sesuatu yang paling menakjubkan di dunia ini berupa cinta. yang pertama dan juga yang terakhir bagiku. Aku tak tahu kenapa? Tapi jika engkau bertanya padaku maka aku akan menjawab beribu-ribu alasan kenapa ia layak aku cintai.
Dulu……
Kita awali cinta itu dengan rasa yang malu-malu. Aku malu menatap kamu padahal aku ingin sekali menatap wajahmu setiap saat. saat kamu berbalik…. Aku menatapmu dan aku harap dengan kekhusukan penuh pada Tuhan agar kamu menoleh dan sekadar mengatakan “ Hai ” padaku. kata sederhana itu bagiku mampu menyatukan kepingan mozaik yang tercecer di hatiku. Dan kau lakukan itu setiap saat…. setiap bersamamu. Kau beranikan diri untuk melakukannya dan aku tahu itu cinta.
Lalu kita lewati tahapan saling mengatakan kata hai….. dengan obrolan yang kecil namun hangat. Itu hal yang kita lakukan dulu….
Ingatkah kamu sayangku, ingatkah bagaimana kita saling berpandangan, saling menunggu dan saling bergandeng tangan . dunia ada digenggaman kita. Kita saling bercerita menghabiskan banyak waktu bersama. entah apa yang kadang kita bicarakan. Pelajaran, prestasi kita atau bahkan guru yang mengajar di kelas. Biasa saja namun jika kita tak saling bertemu kau akan mencariku hanya sekadar untuk menyapa. Saling menatap dan tertawa bersama dan hal yang paling konyol pun kita lakukan. Kita bahkan melewatkan waktu hanya untuk saling menatap satu sama lain. Kita tahu bahwa dunia kita telah jauh berbeda. Lewat mata kita artikan bahasa kalbu kita yang berkabut. Lewat senyuman malu-malu kita tahu kalau itu adalah cinta.
Aku menatap langit biru sepanjang hari, aku selalu teringat dengan hari itu. Dimana aku dengan malu-malu menghadiahimu dengan sapu tangan biru azura. Aku memilih warna biru karena kamu menyukai warna biru. Biru bagimu adalah langit…. Yang luas dan tiada batas. Kamu suka memandangi langit karena itu, kamu suka biru. Katamu biru adalah hati yang tiada batas kelapangannya, selalu melindungi layaknya langit pada bumi. Akku suka alasan itu, karena itu aku menghadiahimu dengan warna biru meski aku tak menyukainya. Kamu tersenyum dan langsung memakainya. Kamu ucapkan kata terima kasih dengan manis dan aku mengingat betul mimic wajahmu. Manis dan juga tulus. Entah apa yang kamu lakukan dengan saputangan itu lagi sekarang.
Itu dulu.
Dulu……
Aku menunggu kamu katakan cinta. kau tahu apa yang aku rasakan. Sungguh sangat menyakitkan mencintai seseorang yang tak mencintaimu. Tetapi saat itu yang aku tahu… adalah sungguh menyakitkan dan membinggungkan mencintai seseorang yang tak memiliki keberanian mengatakan cinta kepadaku. Itu yang aku kira dan sangat aku yakini.
Aku bersabar karena aku tahu aku juga tak mampu hidup tanpa kamu layaknya kamu juga. Mungkin aku teralu naif. Awalnya kamu mulai tak seperti biasa. aku diam dan bersabar karena mereka para sesepuh mengatakan, bukan laut namanya jika airnya tidak berombak, bukan cinta namanya jika perasaan tak terluka. berkali-kali aku katakan itu pada diriku. Seperti layaknya sebuh mantra dan syahadat agama cintaku yang membangun benteng iman cintaku dalam hati.
Itu dulu.
Dulu…….
Aku menangis karena kamu lain dan tak peduli denganku. Aku marah. Aku menghujat tentang kepercayaan mereka. bahwa cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, kabut menjadi mentari dan mungkin kemarahan menjadi rahmat.
Aku benci dan semakin aku ingin melupakan kamu, bayangan kamu malah menjerat nyawaku. Aku menderita. Sakit sekali dan tahukah itu terjadi padaku dan kau tak mau tahu. hal itu bagimu adalah sesuatu yang biasa dan kamu seolah tak mau tahu tentang diriku lagi. Teganya kamu padaku padahal kita telah melampaui banyak hal bersama. ingatkah itu? ingatkah aku saat kamu bersama yang lainnya? pernahkah kamu mencintaiku sedetik saja. ingin ku maki kamu dan ku marah pada kamu namun ketika kamu tatap aku dan hanya mengatakan kata hai. Kepingan hatiku tiba-tiba menyusun kembali menjadi kepingan hati lagi layaknya masa awal pertemuan kita. Hatiku yang sempat hancur menjadi kepingan hati tiba-tiba tersusun kembali. Kamu memang manusia yang ajaib yang mampu dengan mudah mengubah hatiku.
Itu dulu.
Dan aku sesali itu…. dulu.
Suatu pagi ketika kau menunggumu, tahukah kamu, Isa Albana? Aku tahu kamu tak akan menjadi milikku dan aku menitikan air mataku. Inikah sakit itu. sakit yang berbalut cinta? aku bertanya-tanya dalam hatiku kenapa bukan aku wanita yang kamu kenalkan sebagai kekasih itu? padahal tahukah kamu, cintaku adalah cinta yang aku yakini akan menang jika diadu. Apakah kamu menyadarinya bahwa cintaku adalah ketulusan. aku menangis dan menitikan air mataku. Apakah kamu melihatnya? Ku rasa tidak, kamu acuhkan aku dan kamu nikmati cinta itu. itu wajar karena dewimu itu jauh lebih menawan dibandingkan aku. Aku bukanlah apa-apa bagimu. Aku hanya temanmu mungkin. Teman biasa yang tak masuk dalam hitungan cinta.
Itu dulu…..
Dulu….
Beberpa bulan setelah berkenalan. Kamu mengaduh padamu tentang keluh kesahmu dan betapa kamu jatuh cinta dengannya. kamu ingin rajutan benang cerita cinta itu berlanjut. Karena kamu dan kekasih kamu aku terpaksa harus menjadi dewasa. Aku merajut benang-benang cinta kalian yang semu dan menyakitkanku. Menambal dan meniadakan permasalahan itu dengan hati yang terajam. Ku persiapkan punggungku untuk kamu bersedih. Ku siapkan tanganku untuk mengelus ubun-ubunmu dan aku persiapkan batnku untuk memberikanmu ketenangan jiwa.
Aku sangat tersiksa dengan apa yang kalian lakukan. Kuputuskan untuk berhenti menyiksa diriku karena kehidupanku bukan berakhir tanpa cinta. Aku simpan cinta yang terluka. cinta yang membuatku menangis. Aku menitikan air mataku, lalu kelapangan dada itu muncul. Sebuah gairah yang baru entah apa itu namanya tiba-tiba merangsek merasuk kalbu. Sesuatu yang baru dan membanggakan. Dibagung dengan jazirah ego pembaruan dan juga kepasrahan.
Aku tinggalkan semua karena kamu dan tak ku sesali itu. tapi tahukah kamu? Aku yakin itu cinta sejati bagiku. Cintaku adalah cinta sejati. Cinta yang membuatku tersenyum sambil menangis dan penuh keihlasan dan kesadaran aku berkata, “ aku turut bahagia untukmu. Aku berdoa untuk kebahagiaanmu dan aku berdoa untuk diriku agar aku kuat. Kuat untuk bangkit dan menjalani hari tanpamu. Aku sangggup meski aku tak mau.”
Itu dulu,
Aku bangga pada diriku….
Aku bangun puing-puing mimpiku yang hancur. Aku tiada ingin mengenal lagi. Aku merasa cukup kaya dengan memiliki memori akan kita. Aku bangga akan hal itu. terlukis dijiwaku dan mengukir kuat di kalbuku kalau aku masih mencintaimu. Kadang hatiku tak kuasa menahan rinduku padamu dan aku bunuh itu dengan menyepi. Menyadari bahwa mungkin kamu tak akan bahagia denganku.
Sedalam-dalam rasa ini…. sentuh hatiku….. selamilah jiwaku…. Aku masih tetaplah sama. sama dengan aku yang dulu. Bagiku cerita cinta dengan kamu tak sanggup aku ingat karena menyedihkan atau bahkan tak sanggup aku lupakan karena indah untuk dikenang.
Aku melesat bak bintang baru dan aku tiadakan ruang untuk cinta. semua aku lakukan karena kamu. Mereka bilang aku luar biasa, mereka bilang aku tangguh, mereka bilang aku sukses dengan apa yang aku raih. Aku kini menjadi manusia yang jauh tinggi dari bayangan orang. Aku berlari dengan luka membawa mimpi masa depan. Hanya dengan berlari aku melupakan periode krisis itu dan memasukki babak baru dengan krisis-krisis yang baru. aku menyibukkan diri dengan krisis-krisis itu agar sejenak aku melupakan kamu. aku tangguh….. mereka mengakuiku sebagai yang terbaik.
Kehidupanku bak sempurna tapi hatiku kosong. Tiada bahagia itu hanya ada formalitas yang semu, senyum yang hambar dan juga hati yang getir. Ini mungkin yang mereka sebut kehidupan tanpa cinta.
Itu dulu…
Dulu sekali.
Hingga suatu ketika kita dipertemukan secara tak sengaja bagiku dan kamu sebaliknya dalam pertemuan masa lalu. tadinya aku tak mau datang ke sekolah itu, namun aku juga rindu setelah lima tahun tak berkunjung. Aku yakin kamu tak ada ini adalah acaraku dan teman-temanku. aku datang seperti biasa dan pujian itu mengalir adanya. hal biasa yang kudengar. Pujian dan juga kebanggan guruku terasa hambar bagiku. Sepi dan juga senyap duniaku meski pada kenyataannya, keramaian menyelimutiku.
Kamu datang dengan pakaian yang sopan dan itu adalah salah satu alasan aku menyukaimu. Kamu tersenyum dan ku balas senyuman itu dengan keformalanku juga. Hatiku sudah tak bergetar lagi melihat kamu. Biasa saja, mungkin kesepian selama lima tahun yang aku rasakan telah mematikan cintaku. Atau mungkin aku sudah biasa menatap tatapan laki-laki seperti kamu. Laki-laki yang memujiku dan juga melebihkan aku.
Lalu aku pergi meninggalkan kamu dengan hati yang biasa. aku melakukannya dengan sadar. Selama berhari-hari aku bertanya pada diriku. Dan jawaban yang selalu aku temui adalah ketiadaanku. Ketiadaanku lagi atas cinta yang mungkin mereka bilang cintaku telah mati. Aku berkabung akan cinta itu. rasanya aku ingin membangunnya kembali. Aku terlalu bersedih dengan apa yang aku lakukan. Semuanya…. Semuanya terasa memuncak. Krisis tertinggi yang aku rasakan membuat aku tenggelam dalam palung terdalam dari sebuah kehidupan.
Itu dulu
dan hampir menjadi sekarang.
Ku putuskan untuk kembali lagi disana laki-lakiku.
Pada tempat dimana semua kenangan itu pernah berasal. Juga ketika kehilangan itu berawal. Mungkin terlambat aku rasa aku kembali namun apa yang mampu aku lakukan hanyalah sebatas ini.
Ada lanskap sore yang sunyi bertahta. Disana timbul mahkota perpisahan yang merajam langit.saat jejak kakiku ragu terpacak dan ingin berbalik. Aku putuskan untuk sekarang melakukannya. Lalu kesenyapan itu kembali mengiris-ngris hatiku. Saat aku mulai menyadar apa yang akan aku lakukan dan apa yang akan menjadi jawabanmu.
Aku memang sedikit tersesat, gamang dan mengalami disorientasi lokasi ketika aku tiba disni lagi. Menelisik kembali ruang-ruangrndu yang pernah aku lalui dalu, memang tak mudah , terlebih dengan hati patah. Dan aku berusaha menghadirkan sosokmu kembali, seperti pelangi yang ingin langit tunjukan pada bumi setelah gerimis menghujur bumi.
Rasanya sudah cukup aku berdamai dengan kesendirianku. Berlayar di samudera kesedihan serta merasakan langit itu menampar wajahku agar aku kembali untuk mengenangmu. Namun tekatku sudah bulat untuk menuju dermaga emas yang lainnya. karena entah kenapa aku tahu, menunggumu adalah hal yang sia-sia.
Aku menatap wajahmu yang terpantul di kaca kelas dan pandanganku tak pernah aku lepas dari bayangan wajahmu yang sama. lalu aku berbalik, kamu takjub dengan perubahanku dan bersorak girang dalam hatimu. Inikah cinta? aku tak bertanya.
Hanya sekadar menyapa dan kemudan kita saling terdiam. Kamu menatapku seolah kamu ingin mengatakan sesuatu. Dan entah kenapa seolah sesuatu membisikan sesuatu padaku. ia menjamah hatiku yang terdalam dan itu bukan cinta. aku tiba-tiba merasakan kalau ini adalah yang terakhir. Pertemuan yang terakhir.
“bolehkah aku menyentuh wajahmu?” tiba-tiba kalimat itu terlontar dari mulutku.
Dia mengangguk penuh keheranan. Aku menatapnya dan entah kenapa buliran air mata itu terjatuh. Dia menyentuh pipiku dan menghapus air mata itu. rasanya sudah lama kami ingin melakukannya. Mulutnya bergetar dan ku ambil lagi tanganku.
“maafkan aku….”
“tak apa. Aku mencintaimu dan ku harap kau tak pernah memiliki cinta seperti aku. Cinta yang menyedihkan namun aku bertahan.” Kataku dengan pelan.
“katakan ini yang terakhir kau mencintaiku. Berhentilah mencintaku karena jika itu kamu lakukan….. aku akan menjadi laki-laki terjahat di dunia.”
“tidak. Aku tak bisa. Awalanya cintaku padamu mati namun aku malah tak sanggup lalui itu semua. Mencintaimu adalah bagian hidupku.”
Lalu tiba-tiba tangan kananmu terangkat dan ku lihat cicin emas melingkar di jari manismu. Cincin pernikahan dan aku terdiam dan membisu. Kamu telah bersama yang lain sama seperti dulu dan aku terbiasa. Aku tersenyum dan menyeka air mataku seperti dulu. Tanganku menyentuh dadaku dan aku tersenyum, setidaknya aku masih mampu mengatakan cinta padamu, meski apa yang terjadi.
Aku mundur beberapa langkah dan aku berbalik. Berjalan begitu cepat sambil ku peluk driku sendiri. Kamu berusaha mengejarku tapi urung kamu lakukan karena seorang perempuan memanggilmu. Aku tak sempat melihat suara siapa. Aku tak mampu kali ini. hanya cukup dengan mengatakan cinta dan aku tak perlu jawabnya karena aku jawabannya.
Itu dulu dan hampir menjadi sekarang.
Selama enam tahun kamu mengirimi aku surat. Setiap minggunya namun tak satupun yang aku balas. Aku mati dalam kesepianku mungkin itu jawaban yang tepat. Aku terbangun lagi saat aku merasa hidup dan mati lagi. Selalu seperti itu.
Sebulir bunga kamboja putih jatuh. Ia selalu bersedih dibagian ini. ia menganggap bahwa dialah yang menjadikanku sendiri. Aku menatap langit yang tak berbatas di rumah baruku. Awalnya aku tak mau sendiri namun karena namaku mengandung makna bagi mereka. aku merasa cukup hanya aku yang sendiri di rumah baruku.
Dulu…
Hampir sekarang.
Aku ingin membuat mereka yang didekatku menjadi kokoh. Sesuatu membisikkan tentang kepergianku sangat kuat adanya. dan itu tiada meleset sedikitpun. Tiba-tiba tanpa sakit atau apapun yang dibayangkan seseorang. Mereka menjemputku dengan sayap-sayap putih yang mengangumkan. Aku tersenyum karena aku telah bersiap-siap tentang hal ini. kematianku begitu mudah dan indah.
Sekarang…… dan selamanya…..
Aku disini, sendiri …… bercerita tentang cintaku pada kamboja, langit biru atau siapapun juga yang ingin mendengar ceritaku.
Sekarang kamu masih terpaku di depan rumah baruku. Selama beberapa waktu kamu tak percaya perpisahan yang dasyat dan terputus ini terjadi. setidaknya aku beruntung tak mengalami babak ini dalam cintaku. Itu yang ingin aku katakan pada mereka yang ingin mendengarku. Aku beruntung karena tak menyimpan kata-kata cintaku. Aku beruntung masih sanggup mengatakannya dihadapannya selagi ia memiliki hayat bukan pusaran.
Sekarang dan selamanya…
Kamu menatapku dalam kepasrahan seolah aku tiada dan itu salah. Sayangku aku menatap kamu meski tak tahu aku dimana. Bagi kamu dan mereka aku memang tiada dan itu benar adanya. aku ingin tatapan ini dulu dan baru setelah aku tiada aku dapati tatapan itu. tatapan penuh cinta kasih yang aku rindukan yang nyata tanpa kenaifanku.
Dalam ketiadaanku kamu potret diriku yang dulu. Diriku yang hancur karena cinta. sekarang aku kasihan dengan kamu. Adakah kamu kasihan padaku kala itu? aku ingin kamu berbuat sesuatu dulu…. Kamu mampu tapi kamu tak mau, sama halnya aku kini yang mau tapi tak mampu. Maafkan aku……… kataku padamu.
Ingin rasanya jika aku mampu untuk merehkuhmu lagi seperti dulu akan aku lakukan tapi aku tak kuasa lagi.
Sekarang
Sekarang saat kamu disini. menatapku dan menghapus air matamu dengan sapu tangan yang selalu ingin aku ketahui keberadaannya. Kamu sadar setelah kepergianku bahwa cintakulah yang paling besar. cinta yang mengalahkan dewa cinta kepada dewi cinta. tapi semua sia-sia adanya. seperti aku dulu……
Rasa keputus asahan dan penyesalan mengelayuti kamu sepanjang musim. Seperti kecewa yang luruh satu persatu bagai daun yang mati meranggas. Seperti sajak-sajak pilu yang kamu tulis dengan air mata lalu kamu kirimkan bersama sepotong asa, lewat angin malam yang berdesir lembut dari jendela kehidupanmu.
Sekarang….
Meski kamu katakan, aku cinta padamu.
Terasa sia-sia………
Aku bagimu adalah penghias kisah sedih dan juga sesal.
Aku bagimu sejatinya cinta yang tulus.
Sekarang kamu sesalkan kefanaanmu.
Kini aku tahu kamu cinta padaku…..
Meski terlambat.
Sekarang…..
Ku ceriatakan padamu wahai langit biru dan kamboja. Cerita yang sama yang selalu kamu inginkan setiap pagi. Tentang cintaku dulu ketika aku masih berhayat. Ceritakan ini pada angin agar ia bercerita pada manusia tentang cintaku dulu dan sekarang. Tentang kisahku agar mereka belajar akan sejatinya cinta.
Surabaya, 18 Agustus 2010